Showing posts with label Pemerkosaan. Show all posts
Showing posts with label Pemerkosaan. Show all posts

Demi Sebuah Jawaban Ujian, Aku Rela Dibugilin

Demi Sebuah Jawaban Ujian, Aku Rela Dibugilin

“Neng Luisa……” sebuah suara memanggil seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah kelas di salah satu SMU swasta terkenal di ibukota.

Saat itu kegiatan belajar mengajar di sekolah baru saja selesai, dan semua siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang. Gadis yang dipanggil itu berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil menatap seorang lelaki setengah baya yang tergopoh-gopoh lari ke arahnya. Melihat siapa yang datang, gadis itu langsung memisahkan diri dengan teman-temannya, lalu mengajak lelaki tadi masuk kembali ke dalam sebuah kelas kosong untuk berbicara 4 mata saja. Nampaknya ada hal yang sangat serius yang mereka obrolin. Sekitar 10 menit mereka mengobrol, kemudian gadis itu keluar dari kelas itu dengan tersenyum penuh arti. Demikian juga lelaki setengah baya itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Akhirnya gadis itu kembali menyusul teman-temannya, bersiap-bersiap untuk pulang. Nama gadis itu adalah Luisa. Usianya baru 17 tahun. Ia sekolah di kelas 2 sebuah SMU swasta terkenal di ibukota ini. Luisa merupakan salah satu cewek terpopuler di sekolahnya. Gadis belia itu sangat cantik, dengan hidung mungil yang lucu. Dia memiliki kulit putih bersih yang mulus, mata bulat dengan bulu mata yang lentik dan panjang hitam lurus sepunggung. Gadis manis itu memiliki tubuh mungil khas remaja, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang serta dihiasi seragam SMU yang ketat, rok yang beberapa centi di atas lutut, dan kaus kaki putih panjang yang menutupi keindahan betisnya. Ya, kecantikan wajah dan tubuhnya, nyaris sempurna, sangat sesuai dengan selera om-om hidung belang. Ditunjang bibirnya tipis menggoda, dan selalu dihiasi senyum nakal remaja, membuatnya sebagai magnet bagi kaum lelaki, termasuk lelaki yang baru saja diajaknya ngobrol di kelas tadi. Lelaki setengah baya yang baru saja berbicara dengan Luisa adalah Mang Hamad. Dia adalah pesuruh sekolah ini yang bertugas antara lain sebagai tukang sapu sekaligus tukang kebun sekolah. Umurnya sudah 52 tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Rambutnya yang putih tipis nyaris botak sedangkan kumis dan janggutnya tumbuh liar tak teratur. Tetapi yang paling tidak mengenakan untuk di lihat adalah tampanganya sangat jelek. Tahun ini dia sudah bekerja selama 12 tahun dan dia dipertahankan kepala sekolah karena sangat baik dan rajin. Murid-murid sekolah itupun sangat senang bergaul dengannya yang sangat ramah.


************************

Di sebuah kompleks perumahan

Pukul 16.00


Dengan sepeda bututnya, Mang Hamad menyusuri jalan di sebuah perumahan menengah atas. Sepeda itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman garasi mobil di sampingnya. Mang Hamad menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang gadis belia dengan senyuman khasnya yang nakal. Gadis itu adalah Luisa. Tubuhnya yang indah itu terbungkus hotpants ketat berwarna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Penampilan sangat seksi dan menggoda sore itu.

“Sore mang, yuk masuk!” ajak gadis itu.

Maka Hamad pun akhirnya memasukkan juga sepedanya ke dalam setelah Luisa membukakan pagar untuknya. Mang Hamat mengikutinya dari belakang, sesekali matanya menatap pantat gadis itu yang bergoyang kesana-kemari dengan indahnya. Begitu bulat dan padat sempurna bokong itu sampai Mang Hamad gemas ingin meremasnya. Luisa menyuruh Mang Hamad memasukkan sepedanya ke garasi yang kebetulan hari itu kosong, yang menandakan ada yang memakai mobil keluarganya. Kemudian dia mengikuti si empunya rumah memasuki rumah itu setelah melepas alas kaki dan menaruhnya di depan pintu.

“Mang Hamad bawa kan barangnya?” tanya Luisa dengan wajah penuh harap.

“Bawa neng. Tapi harus cepat-cepat dikembalikan. Takut kepala sekolah tahu”

“Tenang aja, cuman bentar kok” jawab Luisa dengan tersenyum puas.

“Tapi duit perjanjiannya sudah ada kan neng?”

“Santai saja mang. Tapi saya lihat dulu dong apa yang Mang Hamad bawa apa”

“Boleh” jawab Mang Hamad seraya mengeluarkan sesuatu dari balik punggunya.

“Eh mang, kita lihat di kamar Luisa aja. Ga ada orang kok” kata Luisa lalu mengajak Mang Hamad ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, gadis itu lalu duduk di atas ranjangnya yang diikuti Mang Hamad.

“Mana mang?”

“Ini neng, seperti yang neng minta” kata Mang Hamad tersenyum sambil menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas.

Luisa melihat semua isi map itu dan ikut juga tersenyum bahagia.

“Benar kan ini yang neng Luisa mau?”

“Benar mang. Pintar juga nih si mamang” puji gadis itu

“Siapa dulu dong….Hamad bin Abdul Aziz” kelakar pesuruh sekolah tua itu sambil membusungkan dadanya.

“Tapi ga ada yang tahu kan?”

“Sumpah ga ada neng. Tenang aja. Sekarang mana duit yang neng janjikan”

Luisa terdiam sejenak. Dia memang menjanjkan sejumlah uang kepada pesuruh sekolahnya ini untuk “jasa’ yang telah dilakukan Mang Hamad. Tapi terus terang dia tidak menyangka Mang Hamad akan berhasil. Luisa sebenarnya orang yang berada. Uang jajannya terbilang banyak. Orangtuanya selalu memberikan uang jajan setiap bulan (bukan perhari seperti siswa lain), dengan jumlah yang cukup banyak untuk ukuran anak SMA. Hal itu dimaksud agar Luisa jadi disiplin dan bisa me-manage duit sendiri. Tapi sayang, gaya hidup Luisa sangat glamor, suka hura-hura. Dia memang dikenal cukup gaul, modis karena badannya memang bagus dan wajahnyapun cantik. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan semua itu, maka maka tak heran baru pertengahan bulan seperti ini dia sudah kehabisan uang. Kalau sudah begitu maka jangan harap ortunya yang disiplin dalam hal keuangan itu akan memberikan uang jajan tambahan.

“Mana duitnya neng? Mau mabok-mabokan dulu nih. Hehehe…” pinta Mang Hamad.

“eh..gini mang…anu…..” kata Luisa terbata-bata.

“Apa? Jangan bilang ga ada duit?”

“Bukan begitu. Jadi gini. Duit Luisa lagi ga ada sekarang. Habis kepake. Gimana kalo saya bayar bulan depan?”

“Ya elah neng. Tahu gitu ga mau deh mamang ambil resiko kayak gini”

“Maaf deh mang…Bulan depan ya…beneran ini uang jajan saya sudah habis nih” kata Luisa memelas.

“Masa utang. Kalo gitu ga jadi deh. Cape-cape saya nyolong ini” kata Mang Hamad sambil berdiri dan siap-siap keluar dari kamar.

Luisa lalu memutar otak dengan cepat. Dia ga boleh membiarkan Mang Hamad pergi membawa “barang” itu. Karena itu sangat penting baginya. Menyangkut masa depannya. Maka dia bertekad akan melakukan apapun asal dia mendapatkannya. Agaknya terpaksa ia harus memakai cara terakhir, maka dia lalu berdiri dan memanggil Mang Hamad yang sudah di pintu kamarnya.

“Mang…..” panggil Luisa pelan, suaranya dibuat sesexy mungkin.

Mang Hamad menoleh ke belakang.

----------

“Apa lagi? Pokoknya ada uang ada barang.” katanya.

“Jangan gitu dong mang. Lagi ga ada uang. Gimana kalo barang diganti barang?”

“emang pasar loak bisa barang diganti barang”

“Aku yakin barang yang ini mamang suka deh” kata Luisa menggoda.

“Barang apaan?”

“Mamang duduk dulu deh di ranjang ini” kata Luisa, dia lalu berjalan ke pintu kamar.

“Hei.. neng mau kemana?”

Luisa diam saja, pintu kamarnya itu dikuncinya lalu kembali ke arah Mang Hamad yang duduk bengong tak mengerti. Luisa sekarang berhadapan dengan Hamad. Perlahan-lahan dibukanya kaos tanpa lengennya di hadapan pria tua itu sehingga sehingga BH-nya yang warna pink dan perutnya yang mulus dan putih telah terlihat oleh Mang Hamad. Kontan Mang Hamad melotot dan kaget dengan perlakuan gadis itu. Matanya makin melotot saat Luisa juga melepaskan BH-nya, sehingga kini kedua payudaranyas terbuka lebar-lebar dan pria itu bisa melihatnya dengan bebasnya.

“Barang yang ini loh yang saya maksud” kata Luisa dengan genit memamerkan dadanya.

Memang payudara Luisa betul-betul indah menggoda. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang untuk dikulum. Mang Hamad masih bengong tak tahu berbuat apa atas perlakukan nekat Luisa.

“Mang, bagaimana kalo duit yang saya janjikan diganti dengan tubuh saya? Mang Hamad boleh menikmati tubuh saya sampai mamang puas. Tapi mamang serahkan barang itu” bujuk Luisa.

Lalu tangannya menggapai tangan Mang Hamad yang berotot. Tangan Mang Hamad yang masih terbengong lalu ditempelkannya di payudaranya. Tangan kekar dan kasar itu tepat memenuhi payudara Luisa. Tangan Mang Hamad agak basah berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudara Luisa dengan lembut.

“Aaahh…gitu…terus… Mang..” desah Luisa manja.

“Luisa… tetek kamu indah sekali.. bening banget… kenyal lagi…”.

“Asal mamang mau kasih barang itu, mamang boleh kok menikmtinya sampai puas”

“Benar nih??” tanya penjaga sekolah itu seolah-olah tak percaya.

“Benar Mang” kata Luisa dengan mengarahkan kepala Mang Hamad ke payudaranya. A

Mang Hamad yang sudah terangsang mulai mencium payudara Luisa, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingnya yang berwarna kemerahan.

“Mang.. aaahhh.. aahhh en… enak.. Mang..”

“Iya… neng… pentilnya… manis nih”

“Ayo mang nikmatin sepuasmu…ahhhh……” desah Luisa.

Sementara payudara Luisa sedang dilahap oleh mulut Mang Hamad, tangannya mulai merambah ke paha gadis itu, dirabanya sebentar paha mulus itu lalu diturunkannya hotpants Luisa ke lantai. Kini Luisa berdiri di kamar itu dengan setengah telanjang di hadapan penjaga sekolah itu dengan hanya memakai celana dalam saja. Sungguh pemandangan yang menggairahkan. Dibantu oleh Luisa, Mang Hamad kemudian meraih celana dalam Luisa dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis vaginanya yang ranum terpampang jelas dan menyerbakan aroma harum di kamar itu.

“Neng Luisa…bau apa ini…wangi sekali…”

“Bau ini Mang…kan Luisa baru mandi.” jawab Luisa menunjuk ke kelaminnya

“Waaaww… pasti rasanya.. enak.. juga.. ya..”

“Kalau Mang Hamad mau… mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama ****** Mang Hamad.. yang mulai gede…” Luisa melihat batang kemaluan Mang Hamad sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya.

Tubuh Luisa lalu dibaringkan di tempat tidur. Mang Hamad melotot melihat tubuhnya yang sudah telanjang bulat, matanya terus menatap ke arah vagina Luisa. Nafasnya berubah menjadi semakin liar. Saat itu benar-benar Luisa tambah begitu sexy dan merangsang mata laki-laki ygmemandangnya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang di atas ranjang hingga membuat darah menggelegak.

“Neng Luisa, ka.. kamu… hgeehh… memek….bagus….sekali…. ka.. kamu… mau.. ya…”

“Iya… Mang. selesaikan aja sekarang. Habis itu berikan barangnya ya”.

Benar-benar Luisa telah menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Hamad demi barang yang belum tahu apa. Lalu Mang Hamad berlutut di depan gadis itu, kepalanya diarahkan ke vaginaanya. Luisa menahan nafas menantikan perlakuan penjaga sekolahnya.

“Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak!!!”

Mang Hamad menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Lidahnya semakin liar saja, kini lidah itu memasuki liang vaginanya dan bertemu dengan klitorisnya. Badan Luisa bergetar seperti tersengat listrik dengan mata merem-melek. Gadis yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Mang Hamad seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar. Mang Hamad nampaknya sudah pengalaman menaklukan wanita, dengan jarinya dia buka vagina Luisa sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Selain dengan lidah, Hamad juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir.

“Oohhh…enak banget. Hebat banget sih jilat-jilatnya….ohhh…ohhhh….” desah Luisa.

Luisa, anak kelas 2 SMU yang cakep dan populer itu, yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh pesuruh sekolahan itu. Apalagi sekarang kedua tangan Mang Hamad meraih ke atas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Luisa.

“Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”

Jilatan Mang Hamad itu benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Luisa, cewek bermata indah itu, sekarang jadi basah kuyup vaginanya dibuatnya. Wajah Mang Hamad pun jadi ikutan basah pula kena tetesan cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina basah Luisa sehingga jadi makin kuyup aja. Mang Hamad semakin memegang kendali permainan sampai akhirnya kini Luisa benar-benar pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan Mang Hamad. Hal ini menunjukkan bahwa Mang Hamad jauh lebih berpengalaman dibanding Luisa. Kini Mang Hamad mengeluarkan kepalanya dari himpitan paha Luisa. Hal itu membuat Luisa merasa tanggung dan mau marah. Tapi dia sadar jutru dia harus bisa memuaskan lawan mainnya ini demi “perjanjian” tadi.

“Ayuk, sekarang neng duduk ya,” kata Mang Hamad sambil menyuruh Luisa duduk setengah tiduran di ranjang. Sementara ia melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Nampaknya Mang Hamad ingin Luisa melihat penisnya yang akan dikeluarkan.

“Neng Luisa pasti belum pernah lihat ****** orang kampung kayak punya mamang. Sekarang mamang kasih lihat. Gratis. Hehehe..”

Kemudian Mang Hamad membuka resulting celananya dan menurunkan celana dalamnya sekaligus sehingga menyembullah penis yang sudah mengeras itu di depan wajah Luisa. Penis itu besar dan panjang dengan batang yang hitam dan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara, membuat Luisa terkesiap karena panjangnya. Ini merupakan penis terbesar yang pernah dilihat langusng olehnya. Beda dengan punya pacarnya. Walau merasa ngeri saat membayangkan penis itu bakal mengoyak vaginanya, tapi Luisa tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Maka tanpa diminta diapun mulai mendekati penis itu lalu mengelusnya. Tubuh Mang Hamad bergetar saat Luisa mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan.

“Tangannya halus..enak…” desah Mang Hamad.

Pelan-pelan, Luisa memajukan wajahnya, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu, sehingga Mang Hamad mendesah merasakan belaian lidah Luisa pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya.

Setelah belasan tahun yang lalu lamanya menduda Mang Hamad kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Wanita muda dan cantik lagi. Dia sungguh sangat terangsang. Luisa sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.

“enaknya!!!” lenguh Mang Hamad

Luisa terus memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Luisa seolah menyetubuhinya. Kini Luisa berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai penjaga sekolah itu itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri.

“Uuhhh…gitu , enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Luisa dan memaju-mundurkan pinggulnya.

Luisa merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Mang Hamad yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

“Ohhh…Neng Luisa, terus…terus!” desahnya sambil membelai rambut gadis itu.

Saking enaknya, pertahanan Mang Hamad langsung jebol dalam waktu kurang dari 5 menit. Wajahnya menegang dan cengkeramannya pada pundak gadis itu makin mengeras. Luisa yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur makin cepat dan cret…cret…sperma Mang Hamad menyemprot dalam mulutnya. Dengan lihainya Luisa menelan dan menyedot cairan kental itu tanpa ada yang menetes dari mulutnya. Sungguh kenikmatan oral terdahsyat yang dialami Mang Hamad sehingga membuatnya melenguh tak karuan.

“Uoohh…sedot terus neng…ajibb…jibb…jibbh!!”

Luisa melakukan cleaning servicenya dengan sempurna, seluruh batang itu dia bersihkan dari sisa-sisa sperma. Setelah mulutnya lepas tak terlihat sedikitpun cairan putih itu menetes dari mulutnya. Sungguh teknik yang sempurna, demikian pikir Mang Hamad.

Luisa kemudia tersenyum genit kearah Penjaga sekolahnya itu.

“Neng memang gadis nakal ya, Luisa”. katanya

“Asal Mamang mau bantu Luisa, apapaun saya lakukan buat Mang Hamad”. Sahut Luisa dengan masih terseyum menggoda.

Mang Hamad lalu memanggil Luisa untuk duduk di pangkuannnya. Posisi mereka sekarang saling menghadap dimana Mang Hamad masih duduk di ranjang dan Luisa diatasnya. Tanpa malu-malu Luisa menuruti keinginan penjaga sekolahnya itu. Bahkan tanpa sungkan dia mencium bibir Mang Hamad. Sambil berciuman tangan Mang Hamad kembali meremas bagian-bagian sensitif tubuh gadis mungil itu. Sekarang penjaga sekolah bejat itu menyusu dari payudaranya. Pipi pria itu sampai kempot menyedot puting Luisa, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara Luisa yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Luisa senang-senang saja payudaranya dikenyot. Dia sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Dengan nakal dia ikut meremas-remas batang Mang Hamad yang masih lemas. Perlahan-lahan nafsu gadis itu mulai naik lagi. Begitu juga dengan Mang Hamad. Dalam tempo singkat penisnya sudah kembali bangun.

“Masukin ya pak. Luisa sudah ga tahan nih’. kata Luisa yang diiyakan Mang Hamad. Luisa lalu mengakat pantatnya dan mengarahkan vaginanya ke penis yang sudah menegang maksimal itu. inilah kali pertama Luisa akan merasakan penis terbesar yang akan memasuki lubang vaginanya yang sempit. Walau sedikit ngeri, tapi nafsunya mengalahkan semuanya. Beberapa kali kepala penis itu terpeleset dan gagal masuk ke celah vagina luisa.

“Susah banget sih mang. Punya mamang gede sih”

“Sini mamang bantu”

Mang Hamad lalu membantu dengan mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu. Luisa mengigit bibirnya merasakan sedikit perih saat ujung kepala penis Penjaga sekolahnya itu masuk. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam miliknya.

“Pelan-pelan mang. Sakit….”

“Iya neng. Memeknya kesempitan sih”

Luisa merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak perlahan ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Mang Hamad meringis menahan nikmat merasakan penisnya tergesek dinding vagina gadis itu. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu akhirnya terbenam setengahnya ke dalam vagina Luisa. Itupun Luisa sudah merasa penuh sekali. Penis itu terasa sangat sesak di liang vaginanya, ini memang bukan pertama kalinya bagi Luisa, namun penis mantan pacarnya Johan tidaklah sebesar milik Mang Hamad. Dan ketika dengan kasar Mang Hamad tiba-tiba menekankan batangnya seluruhnya hingga amblas. Luisa tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

“ahh……….mang……ohhhhhhh…….sakit……..” Luisa melolong dengan panjang.

“Oohh…enak banget Neng, sempit, legit, padahal udah gak perawan…!” katanya sambil menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat. Luisa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang vaginanya sungguh membuatnya seperti terbang tinggi. Mereka bersetubuh dengan gaya woman on top.

“Oh, Luisa…… memekmu…bener-bener masih seret, ohh..ohhh !” puji Mang Hamad ditengah genjotannya. Luisa hanya hanya memejamkan mata sambil mendesah. Dia sudah mulai bisa menikmati penis Mang Hamad di liangnya. Bahkan dia sekarang mulai ikut menggoyang-goyangkan pantatnya di atas penis hitam itu.

“Oh, mang….ohhhh…ohhhhhh…..e..nak……” desah Luisa.

Dia memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Mang Hamad dengan penuh semangat. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah orang tua itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati gadis terpopuler di sekolah ini.

“Kamu benar-benar cantik neng. teteknya juga bagus”. ujarnya.

Dengan posisi demikian, Mang Hamad dapat mengenyot payudara Luisa sambil menikmati goyangan pinggulnya.

Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Luisa makin melayang, dia makin lama makin cepat mengoyangkan pinggulnya diatas tubuh Mang Hamad. Di ambang klimaks, tanpa sadar Luisa memeluk Mang Hamad dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Luisa mendesis panjang dengan tubuh mengejang.

‘Oh..mang….Luisa ….mau ke….lu….ar….rrrrr” Jerit Luisa.

Sekitar 2 menit kemudian, tubuh Luisa meliung keras, menjerit menahan desah, saat berhasil mencapai orgasme, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Mang Hamad masih erus mengenjot hingga orgasmena makin panjang. Vagina Luisa berdenyut kencang seolah menghisap penis Mang Hamad dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Mang Hamad, penis penjaga sekolah itu tetap saja berdiri tegak seperti tongkat baja yang tidak bisa lemas. Penis itu terus menyodok vagina Luisa meski gadis cantik itu sudah kepayahan. Mang Hamad lalu mendekap tubuh telanjang Luisa, lalu masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Mang Hamad kemudian menunggingkan pantat Luisa, memaksa gadis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Luisa yang menungging lebih tinggi dari kepala, Mang Hamad makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Luisa, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Mang Hamad kembali menggenjot vagina gadis seksi itu secara brutal.

“Ahhkh… aahh… oohh…” Luisa merintih-rintih lirih merasakan vaginanya kembali digenjot oleh penis Mang Hamad.

Tubuhnya kian lemas mengalami percintaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Luisa akhirnya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang bulat tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Luisa hanya bisa menggeliat lemah dan menggigit bibir merasakan kenikmatan yang sekaligus sangat menyakitkan.

“enak sekali memek neng Luisa…beruntung sekali mamang…ha…ha….” Jerit Mang Hamad bagai kesetanan.

Penis Mang Hamad dengan kasar menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Luisa yang membludak seolah berbuih melicinkan gesekan penis Mang Hamad pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Luisa sebelah dalam.

Mang Hamad kian ganas mengenjot Luisa. dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Luisa, penis Mang Hamad menyodok vagina anak 17 tahun yang cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Luisa kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Luisa menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Mang Hamad tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Luisa yang menggoyangkan pantatnya sendiri.

----------

“He he he.. Oke juga nih neng..” Mang Hamad tertawa. “Ayo, goyang terus… Ayo.. terus…” Mang Hamad menyemangati.

Dia lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Luisa. Secara reflek Luisa langsung menggerakkan pantatnya lebih kuat dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Luisa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang dia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Luisa terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Mang Hamad. Sementara itu Mang Hamad juga mengimbangi gerakan pantat Luisa yang kian liar. Mang Hamad memegangi pinggul Luisa lalu menarik pinggul yang bulat itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Luisa.

“Ayo.. terus.. goyang terus..” Mang Hamad menyemangati Luisa yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Luisa yang montok dengan penuh kegemasan. Luisa kian tak tahan menerima sodokan penis Mang Hamad. Perlakuan Mang Hamad yang brutal ternyata justru membuat orgasme Luisa lebih cepat meninggi. Luisa merasakan gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya.

“Udah dulu mang, cape…”

“Tapi Mamang belum cape neng…kalau mau udahan silakan tapi perjanjian kita batal” ancamnya.

“Ok..ok lanjutin ajah mang” Kat Luisa tak punya pilihan,

Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Mang Hamad memaksa Luisa kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Luisa ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Mang Hamad menyodok-nyodok vagina Luisa. Luisa tidak bisa bergerak dengan posisi seperti itu. Tubuh Mang Hamad yang besar menindih tubuh putih mulus Luisa dengan ketat. Sodokan penis Mang Hamad menggenjot vagina Luisa dengan begitu kasar membuat pantat Luisa sampai terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin. Luisa yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa pasrah dan berharap ini cepat berakhir. Meski begitu Luisa harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan Mang Hamad menggenjotkan penisnya, tubuh Luisa kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah.

“Ohh… aahh…” Luisa mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Mang Hamad segera tahu kalau gadis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Luisa mencengkeram penis Mang Hamad dengan kuat seolah hendak membetot penis itu sampai lepas.

“Udah dulu mang….aduh capek…istirahat dulu….” Desah Luisa.

Kali inin Mang Hamad menurut saja. Dia juga mau mengistirahtkan penisnya yang dari tadi `bekerja keras`. Dia lalu membopong Luisa. Direbahkannya gadis itu di atas ranjang. Luisa telentang dengan lemasnya. Entah sudah berapa kali dia orgame. Tapi dia tahu ini belum selesai. Luisa menerima minuman yang diberikan Mang Hamad. Kerongkongannya yang tadinya kering kembali terisi. Mang Hamad juga membantu Luisa mengurangi lemasnya dengan memijat-mijat gadis itu.

Pukul 17.40

“Terima kasih neng. Ini baru bayaran yang sepadan”

“Ya udah. Sekarang mana “barang” nya. Saya butuh banget” sahut Luisa

“Tuh ambil!” Mang Hamad mengeluarkan lembaran itu dari saku celananya pada Luisa.

Luisa tersenyum lalu ia buru-buru menyalin semua yang dalam kertas pada sebuah catatan kecil.

Lima belas menit kemudian Mang Hamad pun meninggalkan rumah Luisa dengan penuh kepuasan

************************

Keesokan harinya

Pukul 13.40

Sekolah sudah lenggang setelah bubaran jam 13.15 tadi, tidak ada kegiatan ekskul karena ini adalah minggu ujian. Di sebuah toilet di tingkat 3 yang jarang dilewati orang terdengar sayup-sayup suara desahan dari dalam.

“Aaah…iyahhh Mang, lebih keras dikit…ahhh….aahhhh!!!” erang Luisa yang bersandar pada tembok dan menerima hujaman penis Mang Hamad pada vaginanya.

Seluruh kancing seragam gadis itu telah terbuka dan cup bra nya telah terangkat ke atas, demikian juga celana dalamnya telah tergeletak di lantai dan roknya terangkat hingga pinggang. Crettt….crettt…beberapa kali semprotan sperma Bang Hamad mendarat di buah pantatnya yang sekal. Kedua insan itu baru saja mencapai puncak kenikmatan bersama di toilet itu.

“hihihi…untung ada Mang Hamad jadi tadi ujiannya lancar!” kata Luisa agak lemas sambil mulai mengancingkan kembali kemejanya.

“Pokoknya kalau Neng butuh bantuan sih cari aja Hamad bin Abdul Aziz, dijamin tokcer…asal imbalannya juga asyik punya dong hehhee!” kelakarnya genit sambil membelai pantat Luisa.

Ya…lembaran yang sejak kemarin sangat diinginkan Luisa itu tak lain adalah kunci jawaban pilihan ganda untuk UTS IPA hari ini. Luisa memang terbilang agak kurang dalam bidang studi satu ini, terutama kimia yang membuatnya sangat frustasi. Dengan kunci jawaban hasil curian Bang Hamad kemarin ia dapat mengerjakan ujian tadi dengan lancar, tentunya tidak semuanya dijawab sama persis seperti di kunci demi menghindari kecurigaan para guru. Sebagai harganya ia harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh si penjaga sekolah tua itu.

“Udah ya Mang, saya pulang dulu…inget di luar jangan macem-macem loh, gak enak kalau diliat orang!” Luisa mewanti-wanti pria itu setelah membenahi diri dan hendak keluar dari toilet itu.

“Tenang neng…tenang, Mamang juga bisa dipecat atuh kalau ketahuan gitu hehehe” jawab Mang Hamad terkekeh-kekeh.

Sampai di tempat parkir, Luisa tampak bingung mencari-cari sesuatu di saku bajunya hingga tasnya.

“Ininya ketinggalan Neng?” tanya sebuah suara dari belakang yang mengejutkannya.

“Duh Mang, ngagetin aja, makasih ya, kayanya jatuh di atas tadi” Luisa pun menerima kunci mobilnya dari tangan Mang Hamad lalu menekan remotenya hingga pintu tidak terkunci. Luisa masuk ke jok kemudi, tapi sebelum ia sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba Mang Hamad menahannya dan merangsek ke dalam menindih tubuh gadis itu.

“Mang…apa-apaan ini…aahhh…jangan! Aahhh!!” erang Luisa terkejut.

Selanjutnya pintu mobil tertutup dan mobil itu sedikit bergoyang-goyang, Mang Hamad nampaknya tidak puas-puasnya menikmati kehangatan tubuh si bunga sekolah itu.

Kami Menggilir Nova Sampai Puas

Kami Menggilir Nova Sampai Puas

Ini adalah sebagian kisahku dengan 3 orang kawanku dulu. Kami selalu ngumpul bersama sebagai teman satu geng. Dan kami semua sangat suka dengan fantasi liar seksual. Awalnya kami cuma coba-coba melakukan eksperimen seksual. Karena berhasil akhirnya kami jadi ketagihan.

3 orang temanku adalah Mira, Jo dan Deni. Mira adalah satu2nya teman kami yang perempuan tapi dia mahir ilmu hipnotis. Awalnya cuma ide iseng untuk menghipnotis wanita cantik untuk kemudian kami garap secara seksual beramai-ramai dan kami bikin dokumentasinya. Sekedar untuk bersenang-senang. Sebelum akhirnya ini jadi kegiatan rutin kami.

Namaku Anton, umur 30 tahun. Aku dan 3 temanku sering melakukan kegiatan ini untuk senang-senang dan mengisi waktu luang. Mira biasanya jadi orang pertama yang mendekati korban. Maklumlah selain diajago hipnotis, dia juga perempuan. Jadi kalau dia PDKT, korban tidak curiga. 

Malam itu seperti biasa kami lagi nongkrong di sebuah kafe sekalian liat-liat siapa tau ada korban untuk memuaskan hasrat seksual kami. Tak lama Jo melihat seorang gadis duduk sendirian di pojok kafe. Ia sibuk dengan blackberry nya. 

“wah ada mangsa ni kayaknya” bisik Jo padaku.

Kami semua menoleh ke arah gadis itu. Penampakannya biasa saja. Memakai t shirt dan celana jins. Wajahnya berparas manis, dengan rambut sepundak. Usianya kutaksir sekitar 25 tahun. Tapi bodynya lumayan seksi dan berisi. Setelah rembukan kami sepakat untuk menunggu bebrapa saat lagi. Siapa tahu dia sedang menunggu temannya.

30 menit hampir berlalu, gadis itu masih duduk sendirian. Akhirnya kami sepakat bahwa inilah mangsa kami malam itu. Mira seperti biasa menjalankan aksinya. Ia nyamperin gadis itu, kenalan dan mengajaknya ngobrol ngalor ngidul, entah apa yang dibicarakan mereka tapi kini mereka tampak akrab ngobrol.

Tak lama, Mira mengirim aku BBM. “aman” katanya. Itu berarti kami harus segera cari kamar di hotel yang letaknya tak jauh dari kafe. Tepat di seberang kafe ini. kami pun bergegas. Aku, Jo dan Deni segera mengurus cekin di kamar hotel tersebut.

Komunikasi kami dengan Mira terus berjalan melalui BBM. Dari BBM Mira, kami ketahui gadis itu adalah karyawati bernama Nova, usia 27 tahun dan tidak sedang menunggu siapa-siapa. Dengan kemampuan hipnotisnya, Mira dengan mudah mengorek informasi soal Nova.

20 menit kemudian semuanya sudah siap. Dengan segala ilmu sirepnya akhirnya Mira berhasil membawa Nova ke hotel. Kami semua sudah siap di kamar. Pintu diketok dan masuklah Mira dan Nova. Dari penampakannya, Nova memang berwajah cantik. Senyumnya manis, kulitnya putih bersih. Aku tak sabar membayangkan apa yang ada dibalik kaos dan celana jinsnya. Dari luar saja bodynya sudah keliatan seksi.

Biasanya dalam mengerjai korban, kami menghipnotis korban untuk mau jadi model bintang iklan atau sinetron. Dengan dalih wawancara, korban kami buat tak sadar untuk menuruti semua kehendak kami melampiaskan nafsu seksual kami. 

Nova yang cantik itu duduk di kursi samping kasur. Wawancara kami mulai. Kamera video aku arahkan padanya dan mulai merekam.

“udah punya pacar belum Nov?” tanyaku
“lagi nggak ada, dulu pernah punya tapi sekarang putus,” kayanya sambil senyum manis.
“wah secantik ini kok masih sendiri?”
Nova cuma tersenyum saja tak menjawab.
“sama pacarnya sudah pernah ngapain aja? pasti udah pernah ciuman dong?” tanyaku menggoda.
“iya pernah… kami rajin ML juga kok tiap bulan” jelasnya
“wah udah pengalaman dong ni?... posisi ML yang paling suka apa Nov?”
“mmmm…aku suka banget doggy dan dijilatin vag|na aku. Rasanya enak banget.” Nova bercerita tanpa canggung sedikitpun. Maklum saja ia sedang dibawah pengaruh hipnotis Mira.

Setelah sedikit sesi wawancara basa basi yang menggoda, Nova aku suruh duduk di ranjang. Tapi sebelumnya Jo menyuruhnya untuk melepas celana jinsnya. Nova pun menurut karena masih berada di bawah pengaruh hipnotis Mira.

Ia memelorotkan jins nya dan tampak pahanya yang mulus dan sekel itu. Ia memakai cd warna abu abu yang keliatannya juga sudah agak kendor kaena agak melorot posisinya. Belahan pantatnya sedikit keliatan. Membuat penisku mulai menegang keras. 

Jo mengambil alih kamera. Aku yang akan kerjain Nova di ranjang. Sambil masih ngajak ngobrol, aku mulai meraba pahanya yang mulus itu.

“kamu cantik dan seksi sekali ya, mantan pacarmu pasti puas banget dulu ML sama kamu” kataku
“nggak mas dia justru lari ke perempuan lain yang katanya lebih seksi” kata Nova

“ah mana mungkin.. kamu juga seksi kok. Coba buka bh kamu” kataku.
Nova pun melepas kaosnya dan juga bh nya. Kini tampaklah payudara seksi ukuran 34c menggantung di dadanya. Aku tak buang kesempatan. aku segera remas remas sambil mengecup puting susunya yang mengacung runcing itu.
    
“tuh toket kamu aja seksi banget. Boleh ya aku cium cium lagi” godaku
Nova hanya mengangguk sambil tersenyum. Desahan nikmat segera keluar dari mulutnya saat aku mulai menjilati toketnya sambil sekali sekali menggigit kecil putingnya. Tanganku mulai turun ke pahanya dan mulai mengelus elus vaginanya yang masih tertutup cd.

“oooohhhh…yyeeeaaa..” Nova mendesah keenakan dengan pasrah.
Tanpa sadar, Nova kini mulai membuka kedua belah pahanya. Aku pun leluasa mengorek memeknya sambil menyusupkan tanganku dibalik cd nya. Kujelajahi memeknya yang tertutup jembut yang agak tebal. Memeknya sudah sedikit basah rupanya. Dengan permainan lidahku di sekitar puting susunya dan memainkan klitoris, vag|na Nova kurasakan semakin becek.
Tak kusia-siakan kesempatan ini. aku mulai masukan jariku ke dalam vaginanya. Ia mulai agak keras mendesah pantatnya mulai naik turun. 

Cewek 27 tahun ini lumayan juga, nafsunya gede karena memeknya cepat sekali basah.

Tanpa sadar, Nova sekarang mulai merebahkan dirinya di kasur. Aku tarik cd nya dan sekarang Nova dalam keadaan bugil. Aku buka kedua kakinya lebar lebar. Memeknya terlihat masih rapet dan dikelilingi jembut hitam yang cukup lebat. Tak apalah, aku suka memek dengan jembut tebal.
Aku buka sedikit memeknya dan kujilati dengan ganas. Nova semakin kelojotan. Pantatnya semakin naik turun.

“ooooooohhh…sssshhhhh…aaaaaaaaaahhhhhhh” Nova meracau tak karuan.

Tanganku kini sambil meremas kedua toketnya. Nova kelojotan tak karuan, kepalanya menggeleng geleng ke samping. Tangannya kini menekan kepalaku ke memeknya. Aku terus menjilatinya dengan ganas. Klitorisnya aku mainkan dengan lidahku dan kusedot sambil kadang aku gigit.

Tak lama, tubuh Nova mengejang, pantatnya naik turun dan kedua pahanya mengapit kepalaku yang masih asyik menikmati vaginanya. Nampaknya Nova sudah orgasme duluan. Aku segera merubah posisi. Aku kini melepas semua pakaianku. Nova tampak bengong melihat kontolku yang sudah menegang keras dengan urat-urat dipinggirnya.

Aku menggesek-gesek kontolku pada bibir memeknya yang sudah basah membanjir. Zzllleebb.. kontolku masuk dengan mudah ke liang vaginanya. Sudah tak perawan tampaknya gadis ini. tapi dinding vaginanya masih terasa menekan dan memijat kontolku. Enak juga rasanya.

Aku memompanya pelan sambil kujilat toked Nova yang putingnya mengacung keras. Nova hanya pasrah dan semakin melebarkan kakinya yang mengangkang. Aku dengan leluasa menciumi lehernya, kupingnya dan mengulum bibirnya. Enak sekali rasanya memek cewek ini. aku memompa memeknya makin keras dan Nova semakin mendesah nikmat.
Nova melingkarkan kakinya di pinggulku dan aku semakin cepat mengocok memeknya. Tak lama kemudian spermaku keluar menyembur didalam liang vaginanya.

“wah kamu hot banget deh. memek kamu enak banget rasanya” bisikku dan Nova hanya terengah-engah sambil tersenyum.

Selanjutnya kami mulai dengan permainan yang lebih hot lagi. Jo sebagai cameramen mengarahkan adegan berikutnya.
“Nova, sekarang ada tes buat sinetron. Skenarionya kamu jadi korban perkosaan. Gimana, kamu bisa lakukan ini? ini penting buat casting kamu nanti” kata Jo

Nova hanya mengangguk setuju sambil terlentang bugil di kasur. 
Memeknya masih basah kena spermaku yang banyak dan kental tadi. Mira kemudian menghampiri Nova dengan pakaian kemeja dan rok mini.
“Nova, sekarang kamu pake baju ini ya. Ceritanya kamu karyawati yang diculik pas pulang kantor terus diperkosa sama 3 lelaki”

Nova kemudian mengenakan pakaian itu. Meski rambutnya masih acak acakan, tapi gadis ini tetap terlihat cantik dan manis. Kini ia mengenakan kemeja layaknya cewek kantoran dan rok hitam mini. Di dalamnya ia mengenakan cd nya lagi yang sudah kendor.

“belum pernah ngerasain 3some kan?” tanyaku
“belum tuh…” Nova senyum malu-malu, “kayak apa ya rasanya dikeroyok gitu?”
“Nah makanya tes adegan ini nanti kamu rasain aja sendiri. Nggak rugi deh. kamu pasti lulus kok asal pasrah aja nikmatin apapun yang kita lakuin dan suruh ke kamu,” jelasku. Ilmu hipnotis Mira memang manjur. Sampai saat ini Nova masih berada dalam pengaruh sirepnya.

Adegan dimulai. Mira mengarahkan Nova agar berakting sebagai korban penculikan untuk sedikit meronta ronta, ketakutan dan menangis. Mira kini mengambil alih kamera. Deni berpura-pura sebagai penculik Nova. Ia menutup mata Nova dengan kain, menodongkan pisau mainan dan menyeretnya ke kasur. Nova pun jatuh terlentang. Aku dan Jo masih berdiri di pojokan nunggu giliran adegan main.

“heh denger ya cewek sialan, sekarang lu mau gue perkosa,” akting Deni.

Nova pun pura pura menangis dan ketakutan. Deni segera menyerang Nova. Ia merebahkan tubuhnya diatas tubuh Nova dan langsung melumat bibir dan leher Nova. Gadis itu meronta ronta. Deni bertambah ganas sambil menarik kemeja Nova dan terlepaslah kancing kancingnya. Dalam sekejap, Nova sudah telanjang bulat. Deni kini melepas semua pakaiannya dan siap menggarap Nova.

Deni kemudian mengikat kedua tangan Nova di kedua ujung kasur. Nova kini terlentang tangannya terikat dengan tubuhnya yang bugil. Deni melebarkan kedua paha Nova dan langsung menghujamkan kontolnya. Aku dan Jo kemudian bergabung. Kami sudah telanjang bulat dan siap menggilir Nova habis-habisan.

Deni memasukkan kontolnya ke dalam memek Nova dan memompanya keluar masuk. Aku mengarahkan kontolku ke wajah Nova dan menyuruhnya menyepong kontolku sementara Jo mengulum toket Nova sambil meremas-remasnya.

Posisi ini kami lakukan bergantian dan bergantian pula kami menyemprotkan sperma di tubuh Nova yang terikat itu. Setelah itu, kami melepaskan ikatan tangan Nova dan istirahat sebentar. Mira kembali menghipnotis Nova agar kesadarannya tidak kembali dulu.
Dalam keadaan tak sadar, Nova kembali kami wawancara di depan kamera.

“gimana rasanya Nov? kayaknya kamu cocok nih buat casting sinetron”
“iya mas, rasanya enak kok” jawab Nova yang kelelahan sambil bugil. Dadanya masih belepotan sperma.
“coba kasih liat memek kamu. Kita pingin liat nih” kataku
Kamera kemudian menyorot memek Nova yang belepotan sperma. Karena dientot bergiliran, memeknya kini basah dan berwarna merah.
“iya nih… basah banget, abis kalian tadi crot di dalem si” katanya sambil senyum manis.

Setelah cukup istirahat, kami kembali membujuk Nova untuk ngesex lagi dengan alasan casting sinetron. Nova kini nungging dan kami menggilirnya lagi dengan gaya doggy.

Menjelang subuh, kami semua sudah puas. Nova teler berat karena habis kami gilir habis-habisan, ia terlelap kelelahan masih dalam keadaan telanjang bulat. Dan seperti korban-korban kami lainnya, kami tinggalkan dia bugil begitu saja.

Pembalasan Alex

Pembalasan Alex

Aku duduk termenung di sebuah kursi panjang bandara. Aku diminta menemani bos Herman menjemput seseorang temannya. Herman berada di depan pintu, mondar-mandir seperti tak sabaran. Entah siapa yang akan kami jemput, Herman tak menceritakannya, sepertinya ini adalah orang penting baginya.

Tak lama menunggu pesawat pun akhirnya sampai, Herman semakin tidak sabaran, ia selalu memandang ke arah pintu. Aku pun mendekati Herman ketika para penumpang telah keluar dari pintu. "Nes!" teriak Herman ke arah rombongan penumpang yang keluar. Seorang perempuan kira-kira berumur 25tahunan berparas cantik datang mendekati Herman. Mereka langsung berpelukan, membuatku penasaran siapakah perempuan ini. "Man...", sapaan akrab bos Herman kepadaku, karena namaku Satorman. "Ini Agnes, teman SMP saya...", Herman memperkenalkan perempuan itu kepadaku. Baru ku ingat memang dulu Herman pernah cerita mengenai masa lalunya, nama perempuan itu adalah Agnes Monica, teman SMP yang pernah Herman perkosa bergiliran hanya karena sebuah pelampiasan kekecewaan. "Ini anaknya, Chelsea Olivia...", Herman juga menunjukkan anak perempuan yang dibawa Agnes, mungkin umurnya sekitar 7 tahunan. Mukanya mirip dengan ibunya, putih dan oriental.


"Biar saya bawa saja mbak...", aku menawarkan bantuan untuk membawakan tas Agnes. "Panggil Agnes saja...", balas Agnes sambil menyodorkan tas bawaannya. Kami pun segera menuju mobil. Herman dan Agnes terlihat akrab sekali, bahkan Herman menggendong Chelsea layaknya ayah menggendong anaknya. Dalam perjalanan mereka pun terus bercerita, ternyata sebelumnya Herman pergi ke Singapura bukan untuk liburan, melainkan untuk menemui Agnes. Dan ternyatanya lagi, sejak hadirnya Herman di sana, Agnes malah banyak mengalami masalah, ia harus bercerai dengan suaminya dan pulang ke Indonesia.

Aku ingat cerita Herman dahulu kala, Agnes pernah dijodohkan dengan seorang pria kaya, sehingga memicu api cemburu Herman. Dan semua itu membutakan Herman, ia bersama teman-temannya, kalau tidak salah bersama Tono, Eko, Budi, Marwan dan Iskandar, mereka semua mengeroyok pria yang akan dijodohkan dengan Agnes itu. Selain itu, mereka juga menculik Agnes lalu diperkosa secara bergiliran. Bukan hanya itu, hanya karena perjodohan, watak Herman menjadi rusak, menjadi perokok dan peminum. Yang ujung-ujungnya, Agnes harus meninggalkan Indonesia untuk melupakan masa kelamnya.

Aku terkejut karena tiba-tiba mobil yang aku kendarai oleng. Apalagi sedari tadi aku memikirkan kisah Herman yang membuatku tidak begitu konsen di jalan. "Ada apa man?", tanya bos Herman yang duduk di belakang bersama Agnes dan Chelsea. "Ga tau bos, kayaknya kempes...", aku pun menepikan mobil.
"Sial, ban bocor bos kena paku...", aku menyampaikannya kepada Herman, ia pun keluar untuk melihat. "Waduh, mana jalanan sini sepi...", kata Herman. "Biar gue telpon yang lain untuk jemput saja bos...", saranku. Tapi belum sempat mengambil hp di saku celanaku, sebuah mobil box menghampiri kami. Dua orang keluar dari mobil box itu sambil membawa senjata api. "Ayo ikut!!", perintah mereka sambil mengarahkan senjata api mereka. Yang satunya pun membuka pintu mobil dan menyeret Agnes dan Chelsea keluar dari mobil. Mungkin paku yang menusuk ban juga adalah ulah mereka yang sudah terencana.
"Mau apa kalian?!", teriak Herman mencoba melawan. 'BUKK' pukulan keras ke pipi Herman dengan menggunakan gagang senjata api. Aku tidak berani melawan selain tubuh dua orang itu yang besar berotot dan membawa senjata api, aku juga khawatir keselamatan Herman, Agnes dan Chelsea. Kami pun dipaksa naik ke dalam box, bau sekali dan pengap, walaupun box isinya kosong, tapi sepertinya sering digunakan untuk mengantar entah barang apa.

Pintu box pun ditutup. Herman mencoba menenangkan Agnes dan Chelsea yang mulai ketakutan dan menangis. "Hp tertinggal di tas...", kata Agnes yang ingin menghubungi bantuan. Untung saja hp ku selalu taruh di saku celana. "Biar gue telpon yang lain...", kataku. Keadaan box sangat gelap, nyala hp menjadi satu-satunya penerangan di sini. "Ton, kami diculik... Ga tau mau dibawa ke mana... Mobil box warna kuning...", belum selesai berbicara dengan Tono melalui hp, tiba-tiba sambungan terputus. "Damn! Pulsa habis...", aku kesal sambil membanting hp. Herman pun sudah mulai gelisa. Ia mendekati pintu box, memukul-mukul dan berteriak.

Percuma saja yang dilakukan Herman, mobil box malah bergoyang-goyang kuat, sepertinya sopir itu membawanya dengan kecepatan tinggi. Aku dan Herman pun kemudian menyusun rencana, untuk melawan ketika pintu box di buka. Agnes dan Chelsea juga disuruh bersiap-siap agar bisa segera kabur bila kami berhasil melumpuhkan dua pria besar itu.

Mobil box pun terasa melambat, sepertinya sudah mendekati tujuan, padahal sudah hampir sejam-an kami menunggu. Saat pintu dibuka, astaga, sangat terkejut sejali dengab sambutan dibalik pintu box. Kaki ku serasa kaku tak mampu bergerak melihat belasan orang berbadan kekar mengarahkan senjata api dari luar sana sehingga tak mungkin bagi kami untuk melawan. Agnes dan Chelsea pun kemudian menangis dengan kencang melihat keadaan seperti ini.

Entah siapa mereka dan apa tujuan mereka menculik kami. Kami pun kemudian diseret keluar dari box dan dibawa ke sebuah ruangan yang gelap dan penuh dengan kotak-kotak kayu. Kami semua diikat secara terpisah. Kemudian orang-orang berbadan besar itu pun keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Aku lihat Herman juga tidak berkutik, kami diikat dengan kuat di tiang-tiang dekat dinding.
"TOOLLLOOOONNNNGGGGGG........", teriak Agnes mencoba mencari bantuan, siapa tahu ada yang mendengarnya. Namun sepertinya usaha Agnes percuma saja, ruangan ini tertutup sangat rapat, sehingga menjadi kedap suara. Chelsea malah menangis hingga pingsan. Agnes melihat keadaan adaknya menjadi terdiam dan kemudian kembali menangis.

Tak lama dari itu pintu terbuka, sebuah sosok pria masuk ke dalam ruangan, kucoba liat dengan jelas, tapi aku tidak mengenalinya. "Aleexxx......", seru Herman terkejut melihat sosok pria itu. "Apa mau mu Lex?!", sambung teriakan Agnes. "Hahahaha, akhirnya kita reunian juga ya... Sudah bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini...", kata Alex. Ia berjalan mendekati Herman, ku lihat sebenarnya wajah Alex ganteng sekalu, kulit putih oriental pun menambah nilai plus, hanya disayangkan ada goresan di pipinya seperti di film kartun samurai x. "Ingat dengan goresan ini?...", tanya Alex kepada Herman sambil menunjukkan goresan di pipinya itu. Belum sempat menjawab, Herman langsung ditinju di perutnya, "Arghhh....".

Alex kemudian membuka pakaiannya, seluruh tubuhnya penuh goresan, apa ini juga akibat dari perbuatan Herman? Sungguh kejam sekali masa lalu Herman. "Lihat! Semua yang terbekas olehmu!!!" teriak Alex yang kemudian langsung menendang Herman. Ia membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. "Gara-gara kalian, aku menghabiskan hidupku di lembah kelam... Bergaul dengan penjahat agar suatu hari datang kesempatan seperti ini...". Aku sangat terkejut, padahal ceritanya dulu Alex adalah orang yang berpendidikan, hanya karena perbuatan tidak menyenangkan, telah membuatnya berubah 180 derajat. Kulihat Herman meneteskan air mata, sepertinya ia sangat menyesali perbuatannya.

"Maafin aku Lex...", Herman meminta maaf pada Alex. "Hahaha, maaf?"... 'BUKK' sekali lagi Herman mendapatkan tinjuan namun kali ini mengarah ke wajahnya. "Kau pikir maaf itu bisa memperbaiki semua? Mengembalikan masa laluku? Mengembalikan keadaan tubuhku? Hahahah...", Alex lalu tertawa terbahak-bahak. Darah terlihat menetes keluar dari mulut Herman. "Kau boleh balas aku, tapi tolong lepasin mereka...", pinta Herman. "Hahaha, aku sudah terlanjur begini... Kenapa harus berbaik hati?...", jawab Alex.
Alex kemudian mendekati Agnes, "Hallo, mantan calon istriku...", sambil memegang dagu Agnes. "Tolong lepasin kami Lex...", Agnes memohon sambil meneteskan air mata. "Hahaha, semudah itu kah memohon padaku?", balas Alex dengan raut wajah sedikit kesal. "LEX!!! Gue bakal kasih lu duit berapa pun yang lu mau!" teriak Herman mencoba menawar. "Hey, gue gak perlu duit lu, BEGO!", jawab Alex ketus. "Lepasin kami Lex...", Agnes kembali memohon. Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tidak tahu harus berbuat apa, ini permasalahan antara mereka, tapi seharusnya aku membantu Herman, namun dengan kondisi terikat begini, sama juga sia-sia kalau aku berontak. Apalagi aku tahu perasaan Alex bagaimana, tubuhnya yang telah ditorehkan bekas-bekas yang tidak akan hilang untuk selamanya itu, tentunya akan diingatnya hingga akhir hayat.

Muka Alex mendekati muka Agnes, ia terlihat menciumi aroma wajah Agnes yang harum. Tubuhnya yang sudah bugil menunjukkan penisnya yang mengeras. "Hmm, harum sekali kamu Nes... Jadi ingin ku kentot...", dengan senyum yang bringas kemudian Alex berusaha menciumi Agnes. "BAJINGAN KAU LEX!!!" teriak Herman sekuat tenaga, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Alex. Ia terus menciumi kening, pipi, leher, dan bibir Agnes yang tak bisa berontak karena terikat.

Herman terus berteriak mencaci maki Alex, tapi Alex malah semakin brutal menciumi Agnes, ia pun memberikan cupangan di leher Agnes hingga memerah. "Aku akan bunuh anakmu kalau kamu tidak melayaniku!", ancam Alex kepada Agnes sambil melihat ke arah Chelsea Olivia yang tengah tertidur. Agnes hanya menangis tak bisa menjawab, Herman pun kemudian kembali memohon, "Lex, ini salah gue, bukan salah mereka... Lu boleh siksa gue, tapi jangan kepada mereka...". Aku melihat Herman meneteskan air mata, ia pasti sangat menyesal sekali dengan perbuatannya yang dulu.

Alex tak menghiraukan Herman, baginya inilah hukuman yang pantas Herman dapatkan, melihat Agnes disakiti tentunya merupakan pukulan berat bagi Herman. Melihat kondisi ini, penisku pun mengeras, aku yakin Alex sudah pasti ingin menikmati Agnes. Alex kemudian melepaskan ikatan Agnes, "Ingat, nyama mereka semua ada ditanganku...", Alex kembali mengancam. Agnes terlihat pasrah, ia menangis dan gemetaran, tanpa perlawanan kemudian pakaiannya pun dilucuti Alex hingga lepas semua.

Sungguh indah tubuh Agnes walaupun dadanya tidak begitu besar dan postur tubuhnya tidak begitu tinggi, tapi lekukan tubuhnya yang langsing dan seksi dibarengi kulit yang putih mulus terlihat sungguh indah. Tidak heran, Agnes diperebutkan seperti ini, bahkan aku sendiri hampir tidak bisa menahan, penisku sudah tidak tahan, aku terus menelan ludah melihat indahnya tubuh seksi Agnes.

"LEPASIN AGNES LEX!!!" Herman terus berteriak, "BAJINGAN!" semua teriakan Herman tidak digubris Alex. Agnes gemetaran lalu dipeluk Alex, "Tenang saja Nes, nanti juga lu senang... Lagian kalau dulu si 'anjing' tidak memisahkan kita, mungkin kita sudah menjadi suami istri yang berbahagia...", Alex mencoba menenangkan Agnes. 'Anjing'? Apa maksud dia adalah Herman? Berarti Alex benar-benar sudah dendam sekali dengan Herman. Alex lalu kembali berciuman dengan Agnes sambil memeluk erat dirinya. "Layani aku sebentar saja Nes, mereka akan baik-baik saja...", kembali Alex mengingatkan posisi kami semua. Tanpa perlawanan Agnes pun diciumi tanpa berhenti.

Herman masih terus berteriak, namun suaranya sudah sedikit serak. Sedangkan Alex sudah menciumi hingga ke bagian dada Agnes. Dadanya yang tidak begitu besar namun putih itu terus diciumi dan diremas-remas oleh Alex. Lalu ia pun sudah memulai menyedot puting susu Agnes, memilin-milinnya hingga Agnes terlihat kegelian. Aku sedikit malu melihat aksi Alex, karena aku seharusnya tidak melihat adegan ini untuk menghormati bosku, Herman, namun pemandangan langka ini tidak boleh ku lewatkan. Terus menelan ludah menahan penisku yang mengeras, kulihat Herman sudah tak bersuara, ia mulai lelah akibat teriakannya.
Puas menikmati susu Agnes, Alex pun kemudian meminta Agnes berjongkok, sudah tahu apa niat Alex, ia mengarahkan penisnya ke muka Agnes, ia bermaksud menyuruh Agnes menyepong penisnya. Awalnya Agnes terlihat ragu, ia hanya memainkan penis Alex dengan tangannya. Alex menjambak rambut Agnes agar Agnes tidak ragu menyepongnya. Adegan selanjutnya Agnes sudah terlihat terbiasa menyepong penis Herman, bahkan kulihat gaya Agnes sudah sangat profesional, tidak heran karena pengalamannya yang sudah menjadi seorang istri. "Man, lihat ini... Hahahaha...", Alex tertawa terbahak-bahak, ia senang mengolok Herman. Ku lihat Herman tidak mampu bersuara, ia ngos-ngosan kecapekan.

Beberapa lama setelah itu, Alex sudah ingin ke tahap selanjutnya. Ia menarik rambut Agnes agar mengikutinya. Agnes diseret hingga ke depan, lantai yang hanya beralas kardus-kardus bekas. Alex kemudian berbaring terlentang, Agnes ditarik agar menjongkok. Alex meminta Agnes melayaninya dengan gaya WOT. Adegan yang aku tunggu-tunggu telah tiba, ku lihat Herman tidak mau melihat lagi, ia menundukkan kepalanya untuk tidak melihat perlakuan Alex terhadap Agnes, Herman sudah sadar usaha berteriaknya hanya sia-sia, sedangkan Chelsea masih tertidur pulas.

"Oh... Andai kau jadi milikku Nes...", desah Alex menikmati penisnya dikocok vagina Agnes. Alex meremas dada Agnes sambil berbaring, Agnes hanya menaik turunkan tubuhnya dengan mata yang tertutup, entah apa yang ia rasakan, kulihat antara sedih tapi menikmati. "Tapi semua sudah telat Nes... Hidupku sudah berubah...", kata Alex.

Beberapa puluh menit kemudian terlihat Agnes sudah sedikit lelah, Alex kemudian coba bangkit memeluk Agnes dan menekannya ke bawah hingga Agnes terlentang, sekarang gantian Alex yang berada di atas. Sambil menggenjot vagina Agnes, Alex kemudian mengulum susu Agnes. Dari sini terdengar jelas desahan Agnes yang merintih keenakan. Walaupun matanya tertutup karena malu diperlakukan begini, namun aku yakin dia telah menikmati sensasi seks ini. Badannya terus bergoyang mengikuti irama sodokan penis Alex di vaginanya. Permainan mereka pun berlangsung cukup lama, hingga Alex mencapai ejakulasi, ia membiarkan penisnya menyemprotkan sperma di dalam vagina Agnes. Agnes berusaha mendorong tubuh Alex, "Jangan Lex...", Agnes memohon sampai menangis, namun Alex memelukknya dengan erat sampai beberapa menit hingga penisnya mulai mengecil dalam vagina Agnes. Agnes pun menangis lebih keras, sperma Alex sudah memenuhi liang vaginanya. "Thanks Nes...", kata Alex lalu menarik keluar penisnya, ia tersenyum gembira, ini adalah kemenangannya. Herman tidak berkutik dipermalukan seperti ini.

Alex kemudian bangkit dan menjauhi Agnes, ia pun keluar dari ruangan ini. Agnes masih terbaring lemah sambil menangis. Aku tahu Agnes sudah menderita dan Herman juga sudah frustasi dengan keadaan ini, akhirnya aku buka mulut, "Nes, ayo bangkit Nes... Lepasin kita...", aku berteriak pelan agar Alex tidak mendengarnya, "Kita harus kabur dari tempat ini...", aku berharap Agnes bisa bangkit dan dan melepaskan ikatan kami.

Mendengar masukanku, Agnes kemudian coba berdiri, walaupun badannya lelah tapi ia terus berusaha, ia pun berdiri dan menghampiri kami, dengan berjalan terhuyung-huyung ia menuju ke arah Chelsea. Itulah yang memotivasinya untuk keluar dari tempat ini, dengan air mata yang masih menetes, ia melepaskan ikatan Chelsea. Anaknya itu masih terlelap, sehingga Agnes membiarkannya sejenak berbaring di dekat sana, lalu ia menghampiri Herman untuk melepaskan ikatan Herman. Herman terlihat masih menundukkan kepala, ia menyesal telah menyeret Agnes ke dunia yang begitu kejamnya.

Selesai melelaskan ikatan Herman, ia lalu mendekatiku untuk melepaskan ikatanku. Tubuhnya kulihat dari jarak dekat membuat penisku terus mengeras ingin melampiaskan gejolak. Dadanya putih sekali, ingin rasanya aku lumat. 'BRAKKK' suara keras tiba-tiba membuyarkan imajinasiku. Agnes pun berhenti melepaskan ikatanku, matanya lalu tertuju ke arah pintu. Gila, belasan pria berbadan besar tadi memasuki ruangan ini. "Ayo Nes, lepasin aku...", pintaku. Namun sebelum Agnes berhasil melepaskan ikatanku, seorang pria hitam besar berlari lalu menjambak rambut Agnes, lalu ia menariknya ke arah mereka. Semua kemudian mengerumuni Agnes, melihat demikian Herman lalu berlari ke arah mereka berusaha menyelamatkan Agnes. Namun apa daya, selain kalah postur tubuh, Herman juga kalah jumlah. Ia dipukuli pria-pria besar itu, ditendang hingga Herman tersungkur dan tak sadarkan diri. Sungguh malang sekali nasib mereka, karena sebentar lagi Agnes diharuskan melayani pria-pria besar itu. Satu, dua, tiga... delapan belas, iya tidak salah hitunganku, mereka berjumlah delapan belas orang.

Mereka lalu melepaskan pakaian mereka masing-masing. Mereka terlihat sangat bringas, Agnes ditampar dan digerayangi. Tak mau menunggu lama, mereka pun bergiliran menikmati Agnes yang tak berdaya. Satu pria dengan penisnya yang besar langsung menusukkan ke arah vagina Agnes, yang lain hanya meremas susu Agnes, satunya lagi menancapkan penisnya ke mulut Agnes yang mungil. Agnes menangis ketakutan, "Hiks hiks hiks...". Berjam-jam mereka tidak berhenti menikamti Agnes, secara non-stop bergiliran menggenjot vagina Agnes. Mereka pun tidak segan berlaku brutal, rambut Agnes dijambak, payudaranya ditampar, bahkan vaginanya ditusuk tanpa henti bukan hanya dengan penis mereka melainkan tongkat baseball yang mereka bawa sebagai senjata.

"Perek ini bening sekali ya...", kata mereka. "Bagus habis ini kita jual saja...", sambung yang lain. "Iya, pasti laku nih...", lanjut yang lainnya. "Oh ya, lihat tuh anak perempuannya sudah bangun...", kata yang lain melihat Chelsea sedikit bergerak karena terbangun. Apa yang akan terjadi dengan Chelsea? Apalagi kalau ia melihat kondisi ibunya seperti itu. "Hey, lu kan doyan anak-anak...", olok salah satu pria ke pada satu pria lainnya. Pria itu terlihat mempunyai kelaianan, ia kemudian bangkit dan mendekati Chelsea. "Jangaannnnn........", Agnes mencoba memohon, ia terlihat tak mampu lagi ber teriak.

Pria besar yang mendekati Chelsea itu lalu menarik Chelsea, anak itu kaget lalu menangis, "Mamaaaa....", teriaknya. Kasihan sekali, anak perempuan yang masih kecil itu sebentar lagi akan dinodai. Herman masih pingsan, dan aku terikat erat di sini tak mungkin menolong, namun walaupun aku tidak terikat, aku juga tak mungkin mampu menolong. Yang aku lakukan hanya bisa coba memohon, "Hei, dia masih anak-anak... Teganya kalian... Coba kalian bayangkan kalau itu terjadi pada anak kalian?!...", aku coba menyadarkan mereka. Namun pria itu tidak menggubris, ia menangkap Chelsea lalu menarik koyak baju Chelsea.
Pria yang mengerumuni Agnes malah marah padaku, "Hey, bisa diam ga lu?! Atau mau gue bunuh?!", ancamnya membuatku langsung terdiam. "Jadi orang gak usah munafik!", sambung satu temannya. Kemudian salah satu dari mereka mendekatiku dan meremas kelaminku, "Wah, otongnya keras, dia konak broooo....", teriaknya kepada kawan-kawannya. "Hahaha, gak usah munafik, nih kita kasih jatah...", sambut kawannya langsung menyeret Agnes ke arah ku. Pria yang tadi meremas penisku langsung membuka resleting celanaku, ia menarik keluar penisku, "Ayo kulum...", mereka meminta Agnes mengulum penisku. Entah apa yang kurasakan lagi, semua gelora berkecamuk dipikiranku, ku alihkan pandangan ke arah Chelsea, ternyata anak perempuan itu masih menangis dengan kondisi tubuhnya yang sudah bugil tanpa satu helai pakaianpun, dada nya rata, ia hanya anak berumur sekitar tujuh tahunan, sunggub bajingan mereka.

Tak bisa berpikir lebih lanjut, tiba-tiba penisku terasa hangat, Agnes dengan terpaksa mengulum penisku dengan posisi di-'doggie' oleh pria berbadan besar penuh tatto, pria lain memegabgi Agnes agar ia tidak lelah dengan posisinya, yang lain sambil meremas-remas susu Agnes. Sedangkan satu pria keluar dan kemudian kembali dengan membawa seember air penuh, "Gue mau liat reaksi pria ini...", ia lalu menguyurkan air itu ke arah Herman, membuat Herman tersadar dari pingsannya.

Pria itu menarik bangkit Herman, "Liat jing! Wanita yang lu cintai... Sedang melayani kami, bahkan melayani temanmu sendiri...", ia memaksa Herman memandang ke arah kami. Aku sangat tidak enak, aku menggelengkan kepala, entah apalagi yang dirasakan Herman kemudian. Ia menangis tanpa mau melawan, pria itu lalu mendorongnya jatuh. Namun ketika Herman memandang ke arah Chelsea yang sedang dipeluk satu pria, Herman terlihat marah, ia bangkit dan mau melawan, kemudian ia tetap dilumpuhkan dengan tendangan pria yang tadi menyiramnya. "Lu nonton aja!!", kata pria itu masih menendang Herman agar Herman tidak melawan.

Aku telah merasakan nikmat duniawi, penisku benar-benar nyaman diemut oleh Agnes. Sungguh hangat penisku berada di dalam mulutnya, Agnes hanya menangis dan mengikuti perintah. Dengan gaya doggie, Agnes terus menyepong penisku tanpa henti, sedangkan pria-pria yang men-doggie nya sudah silih berganti. Dan sebentar lagi aku juga akan mencapai tahap ejakulasi, kurasakan nikmat mencapai ujung penis, akhirnya aku pun menyemprotkan sperma ke dalam mulut Agnes.

"Bajii... nggaannnnn....", Herman tak mampu melawan, ia hanya bisa terus tersungkur karena dipukuli pria tadi. Kami hanya bisa melihat adegan ini tanpa perlawanan. Yang paling menyedihkan adalah nasib Chelsea, ia sudah terlihat pingsan karena tak mampu menahan rasa sakit ketika vaginanya ditembus penis jumbo pria berkelainan seks itu. Pria tersebut terus mengenjot anak Agnes yang masih kecil. Chelsea memang terlihat cantik, kalau sudah besar pasti akan menjadi pujaan lelaki, tapi sangat disayang hidupnya telah hancur seperti ini. Rambutnya yang panjang dan hitam terus dibelai pria itu, bibirnya yang mungil dilumat, lalu juga ke arah susunya yang rata, kulitnya putih sehingga bekas cupangan sangat terlihat jelas.

Sedangkan nasib Agnes masih belum berubah, walaupun ia sudah selesai menyepong penisku, kini ia diharuskan menyepong penis milik pria lainnya. Entah sudah berapa pria yang telah menggilirnya, tapi permainan ini sama sekali belum berakhir, apa mereka akan menawan kami sampai waktu yang cukup lama? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa kami akan dibunuh? Aku tak mampu memikirkannya lagi, sekarang aku hanya menyaksikan adegan 'live' yang sangat seru.

Kini kulihat Agnes berada di atas salah satu pria yang berbaring dilantai, pria itu kemudian memeluknya dengan cukup erat sehingga pantatnya sedikit nungging. Dengan vagina yang masih tertancap penis, salah satu pria mendekati Agnes dan ingin melakukan aksi anal. Tak mau lama-lama, pria itu dengan cepat dan kasar menusukkan penisnya ke lubang anus Agnes. "Argggghhhhhhh!!!!....", teriak Agnes. Kini lubang vagina dan anusnya telah tertancap penis, giliran mulutnya yang akan disumpal penis pria lainnya. Aku tidak tega melihat Agnes mengejang kesakitan seperti itu, tubuhnya mungil tampak terlihat seperti sedang berada dalam genggaman para monster.
Lama sekali mereka menggenjot Agnes, lalu kualihkan pandangan ke arah Chelsea, ia masih terus digenjot pria tadi. 'Apa enaknya?' pikirku dalam hati, kok pria itu sangat menikmati, menggenjot tubuh seorang anak kecil dan melumat susu yang rata. Sungguh bajingan yang berotak gila, sifatnya tak jauh dari sifat temanku, Tono, yang mempunyai kelainan seks juga.

'BUKKK!' suara tendangan yang sangat keras mengarah ke perut Herman. Ternyata Herman masih mencoba bangkit untuk menyelamatkan Chelsea. "Lu ini gak tau diuntung ya?! Syukur-syukur kalian gak kami bunuh...", kata pria yang menendang Herman itu. "Hahaha, apa dia juga mau nyicip anak ini?", gurau pria yang sedang menggenjot Chelsea. "Tenang saja, tar kalo gue dah puas, lu bole nikmatin juga kok...", sambungnya yang semakin membuat Herman marah. Masih beberapa pukulan dan tendangan mengenai Herman, mulutnya sudah mengeluarkan darah, matanya pun bengkak sebelah.

Agnes sudah mulai tidak sadarkan diri, sekarang hanya satu pria yang memperkosanya, sedangkan pria lain sudah puas mendapatkan giliran. Tubuh Agnes penuh dengan cupangan, wajahnya belepotan dengan sperma, bahkan masih ada beberapa tetes yang mengalir keluar dari mulutnya. Setelah berhasil berejakulasi di dalam vagina Agnes, pria itu pun kemudian mencabut penisnya, terlihat jelas sperma menetes keluar dari lubang vagina Agnes. Kemudian pria itu membopong tubuh Agnes dan dilemparkan ke arah Herman. "Nes...", seru Herman ketika tubuh Agnes didekatnya, Herman lalu memeluknya dan coba membuatnya terjaga.

"Woi! Gue bukan suruh lu pelukin dia!", kata satu pria, lalu pria lain pun menyambung, "Kami mau liat lu ngentot sama tuh perek!". Herman lalu melotot ke arah mereka, seakan tidak percaya betapa malang nasib Agnes. "Napa? Mau lawan? Atau biar kami telpon kawan kami yang lainnya lagi biar lebih rame lagi ngentotin tuh perek?", ancam satu pria.

Herman lalu memucat wajahnya, pelan-pelan akhirnya ia membuka bajunya. "Kalau gak mau, tar kita kentot tuh anak juga...", tambahnya mengancam. "Bole bro, gue dah selesai ne...", kata pria yang memperkosa Chelsea. Tubuh Chelsea yang lunglai ditinggalkan begitu saja dengan vagina yang berdarah karena koyak ditembus penis besar, sekitarnya terlihat cairan sperma yang tertinggal. Herman tak berkutik, ia hanya bisa menuruti kemauan pria-pria itu, Herman mulai menggenjot Agnes yang sedang pingsan. Sinar cahaya air mata terlihat dari wajah Herman, ia terus menangis sambil menyetubuhi Agnes. Malang sekali, pria-pria jahanam itu malah bersorak-sorai, mereka pun kembali mengenakan pakaian mereka sambil mengawasi tingkah laku kami.

Akhirnya ku lihat Herman mengejang, ia sudah berejakulasi dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Agnes. "Hebat! Lu ternyata juga doyan ma perek ini... Hari ini kami jual gratis, lain kali mesti bayar loh...", ejek pria bertubuh gede itu. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku. "Hei, lu mau ga? Gratis loh...", seru pria itu ke arah ku, aku pun langsung diam dan berpura-pura tertidur. "Biarin aja bro, anggap aja dia lagi ga mujur, hahahaha...", olok kawannya mengira aku sudah tertidur. Aku hanya pura-pura tertidur, namun aku masih jelas mengetahui aktivitas mereka. Mereka terus berbicara sambil merokok, mengawasi kami dengan cermat.

"Yuk cabut...", aku mendengar ada pria yang berkata demikian, aku tidak berani mengangkat kepalaku, ku biarkan hingga ku dengar pintu terbuka dan tertutup kembali. Saat ku angkat kepalaku, ruangan sudah tidak ada mereka, sebelah kiri hanya ada Chelsea yang tertidur pulas, sedangkan depanku ada Herman yang juga tertidur memeluki Agnes. Kondisiku yang cukup baik, walaupun terikat tapi setidaknya aku tidak disiksa mereka, malah mendapat sedikit kenang-kenangan, dengan kondisi terikat, penisku masih bergelantungan di luar celana yang resletingnya terbuka.

Menunggu cukup lama, akhirnya aku pun tertidur. Dan suara gaduh kemudian membangunkanku, dengan mata sayup-sayup ku coba melihat keadaan sekitar. Sedikit lega, aku melihat ruangan ini ramai dengan polisi, mereka lalu mengevakuasi Herman, Agnes dan Chelsea. Kemudian salah satu polisi mendekatiku dan melepaskan ikatanku. Beberapa polisi terlihat menggeledah kotak-kotak yang ada di ruangan, ternyata isinya adalah botol-botol bir, dan beberapa memasang garis polisi. Kami pun dibawa ke mobil mereka dan meminta kami menjelaskan apa yang terjadi di kantor polisi.

Aku masih sedikit pusing, tapi sesampai di kantor polisi, ku lihat Herman dengan lancar menceritakan apa yang terjadi, walaupun wajahnya masih bengkak di mana-mana. "Pokoknya Alex harus ditangkap! Berapapun akan aku bayar!", Herman menegaskan. Sedangkan Agnes dan Chelsea dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Aku pun dimintai beberapa kesaksian, dan aku menceritakan semuanya yang terjadi.

Antara Kejutan Dan Polwan

Antara Kejutan Dan Polwan

Herman belum pulang dari liburannya di Singapura, sehingga terpaksa aku dan Tono yang menjaga usaha pijat plus-plusnya ini. Teman yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka, hanya aku dan Tono yang menjadi orang kepercayaan Herman. Oya, namaku Satorman, aku sudah sering menceritakan kisahku dan kisah teman-temanku. Kali ini, aku, Tono, dan empat gadis teman kami yang standby di tempat ini, tempat pijit plus-plus yang masih sepi hingga hari ini. Hanya penambahan anggota baru dua hari yang lalu. Namanya Fenny, gadis keturunan yang cantik, melebihi tiga teman gadis kami yang pribumi. Entah dasar apa yang menyebabkannya mau bekerja di sini, yang jelas aku menduga adalah himpitan ekonomi. Tapi lambat laun aku juga bisa mengorek informasi mengenai alasannya.


Fenny, Ayu, Lisa dan Widya menunggu di bawah, siapa tahu ada konsumen yang masuk. Sedangkan aku dan Tono sedang asyik main playstation tiga yang baru saja kubeli dan ku simpan di kamarku. Sejak ikut Herman, aku tidak terlilit hutang lagi, bahkan aku tidak sulit mendapatkan uang, karena Herman selalu memberikan uang kepada kami, walaupun usaha sepi, dia tetap membayar gaji kami. Jam sudah menunjukkan pukul 22:00, tiba-tiba aku mendengar dering telepon, "Iya, ada apa?" tanyaku ketika mengangkat telepon di meja yang tersambung dengan telepon lantai bawah. "Ada masalah, turun bentarlah, ada polisi nih..." kata Ayu yang menelepon dari lantai bawah. Aku pun kaget mendengar ada polisi yang datang, apa ini razia? Aku segera ajak Tono untuk menuju ke bawah. "Gawat nich, semua suratkan ada sama Herman..." kata Tono.

Asli lebih terkejut lagi ketika kami sampai di bawah dengan apa yang kami lihat? Ada tiga polwan muda dan cantik sedang berbicara dengan Ayu dan yang lainnya. "Selamat malam pak!" sapa salah satu polwan ketika melihat kami. Wajahnya cantik sekali, rambutnya pendek dan postor tubuhnya seperti model, kulihat diseragamnya tertera namanya Felicia. Sedangkan dua polwan lainnya sedang berbicara sambil melirik-lirik kondisi tempat usaha kami. Mereka sepertinya baru, karena kulihat umur mereka mungkin baru menginjak 20 atau lewat sedikit. "Iya, selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" jawab Tono dengan sopan. "Maaf, ini kunjungan mendadak, kami mau lihat surat-surat pendirian usaha ini" kata polwan tersebut. Tono langsung terlihat pucat, seperti yang kami khawatirkan, usaha gelap ini sangat riskan. "Hmm, bos kita lagi tidak ada di tempat bu, surat menyuratnya ada sama beliau, kalau ibu mau, nanti kalau beliau sudah pulang, kita laporkan lagi?" kata Tono. "Kami mau lihat sekarang juga, masa buka usaha tanpa ijin?" sindir polwan lainnya yang tadinya sedang berbicara dengan Ayu, muka polwan tersebut terlihat judes sekali. "Oh, tunggu..." kata Tono. Lalu Tono mendekatiku dan berbisik padaku, "Mereka kayaknya minta jatah... Ambilin tiga juta lah buat mereka..." Mungkin juga mereka minta uang pelicin, jadi aku naik ke atas kembali ke kamar ku untuk mengambil sejumlah uang.

Samapi kembali di bawah, aku langsung menyodorkannya ke Felicia, polwan yang tadinya berbicara dengab kami. "Loh, apa ini maksudnya?" tanya polwan itu. "Kalian bermaksud menyogok kami?" tanya nya lagi. Kami semua terdiam melihat ketiga polwan itu sedikit marah. "Ayo ikut kami ke kantor polisi!" perintah Felicia. "Tapi?..." jawab Tono. "Berikan waktu agar kami bisa menelpon bos kami dulu..." pinta Tono. "Kau dan kau ikut!" perintah polwan itu sambil menunjuk kami berdua. "Tutup saja yu, nanti Ayu coba telpon bos Herman..." pesan Tono ke Ayu, dan kami pun digiring keluar. Kami disuruh naik ke mobil polisi yang dengan bak terbuka. Sial sekali, kami diperlakukan seperti penjahat, kami disuruh duduk di belakang dan dijaga dua polwan, sedangkan Felicia yang mengendarai mobil.

Untungnya sudah agak malam sehingga jalanan sedikit sepi, dan kami pun melewati jalan yang dikelilingi hutan, karena kantor polisi terletak agak jauh. Aku lihat raut wajah Tono sangat kesal, aku paham, kami malu sekali diperlakukan begini, andai Herman ada di tempat, tentunya dia tak akan membiarkan kami begini.

Sesampai di kantor polisi, kami pun disuruh turun dan menemui atasan mereka. Seorang pria gemuk besar dengan kumis tebal duduk santai di sebuah ruangan, sepertinya dia lah atasan di sini. Saat masuk, pria yang merupakan kapolsek daerah sini hanya tersenyum-senyum mendengar penjelasan polwan-polwan tersebut. Tak lama dari itu aku melihat pria berkumis tebal itu ditelpon seseorang, dan saat dia menutup telponnya, dia pun menyuruh kami pulang. Kini giliran polwan itu yang protes, "Tapi pak?..." sepertinya polwan tersebut tidak terima dengan keputusan polisi pria itu. "Antar mereka pulang, perlakukan mereka dengab baik..." itu saja yang dikatakan polisi pria tersebut tanpa mau berbicara panjang lagi.

Aku dan Tono baru merasa lega, kami pun kembali naik ke mobil itu layaknya penjahat, kami kembali harus dibawa di belakang. Sebelum naik, sepertinya Tono mendapatkan sms dari seseorang, setelah membacanya dia pun menunjukkannya padaku. Itu adalah sms dari Ayu yang berisi: 'Gw uda telp bos, nti tmn2 lain ada kejutan'. Sms yang sangat singkat, aku pun tidak tahu apa maksudnya.

Mobilpun mulai bergerak ketika kami naik. Masih tiga polwan tersebut yang menemani kami. Entah sial apa, pas sampai di tengah hutan yang harus kami lalui, tiba-tiba ban mobil bocor. "Waduh, mana gelap lagi nih... Tak bawa ban serap..." kata Felicia yang keluar dari mobilnya. Kami pun turun dari bak mobil, "Sial, siapa yang nebar paku begitu banyak?" kata Felicia setelah mengecek ban mobilnya. Sepertinya ada yang menaruh ranjau paku di sepanjang jalan ini. Apa ini kejutan yang dimaksud Ayu? Soalnya siapa yang iseng menebar ranjau paku di sini? Tidak ada bengkel dekat sini, paling-paling perampok saja yang melakukan hal seperti ini di tempat sepi tengah hutan begini. "Tunggu di sini, kita cari tumpangan", kata Felicia memandang ke ujung jalan yang gelap. Hanya terang bulan dan cahaya lampu dari mobil yang menyinari sekitar. Dan dari ujung jalan terlihat ada sinar, ada mobil yang menuju ke sini, Felicia pun maju berdiri di tengah jalan untuk menghadang mobil itu.

"Wah, mogok ya?" tanya seseorang yang menggunakan topeng dalam mobil tersebut ketika dihentikan Felicia. Tak sempat bertindak, tiba-tiba dengan secepat kilat, beberapa orang bertopeng turun dari mobil itu dan menyergap tiga polwan tersebut. Mungkin ada sekitar tujuh pria bertopeng yang langsung melumpuhkan tiga polwan tersebut. Para polwan itu tak bisa melawan karena kalah jumlah. "Ayo ikut!" pria bertopeng itu langsung menyeret tiga polwan tersebut masuk ke dalam hutan. Aku dan Tono tidak bisa berbuat apa-apa, kejadiannya sungguh cepat, kami tak mungkin melawan, karena mereka membawa senjata tajam. Kami semua digiring masuk hutan, apa selanjutnya yang akan terjadi? Aku takut kawanan penjahat ini akan membunuh kami semua.

Sampailah kami di tanah yang sedikit lapang, ku hitung jumlah mereka... satu... dua... tiga... semua ada tujuh orang. Pria misterius bercadar itu sepertinya sangat brutal, mereka mengacungkan senjata mereka di hadapan kami. Aku, Tono, dan tiga polwan itu tak bisa berkutik, kami disuruh berlutut dengan tangan di kepala. Salah satu pria tersebut kemudian mendekati kami, kemudian menarik satu polwan ke depan. Empat pria lain menjaga kami agar tidak berontak, sedangkan tiga lainnya seperti akan melakukan terhadap polwan itu. "Cantik juga ya polwan ini..." ejek pria tadi yang menariknya, kemudian berdiri di depannya dan mengangkat dagu polwan tersebut. "Hmm, Eka..." pria itu membaca nama yang tertera di seragam polwan tersebut.

Dari barisan kami tampak Felicia berusaha melawan, tapi ia ditendang dari belakang oleh pria yang mengawasi kami, hingga ia tersungkur dan kesakitan. Sedangkan di depan kami, hanya bisa melihat aksi pria bercadar mengerjai polwan yang disebut bernama Eka tersebut. Aku lihat dengan jelas, walaupun penerangan hanya menggunakan senter dan mengharapkan sinar rembulan, pria bercadar yang menarik Eka tersebut memeluk Eka dan melumat bibirnya. Sedangkan dua lainnya hanya tertawa terbahak-bahak, dan empat lainnya masih mengawasai kami dari jarak yang sangat dekat. Felicia masih kesakitan akibat tendangan tadi, tapi dia sudah kembali ke posisi awal, berlutut dengan tangan di atas kepala.

Aku juga tidak ada niat untuk menolong para polwan tersebut, karena aku juga sudah terlanjur kesal dengan perlakuan mereka. Bahkan aku berharap para pria tak dikenal itu melakukan aksi yang lebih lanjut. Ternyata yang ku mau menjadi nyata, pria bercadar yang tadi melumat bibir polwan yang bernama Eka itu mendorong tubuh Eka hingga jatuh. "Beraninya menolak ciumanku?!" pria tersebut terlihat marah sekali. Eka lalu ditendang bagian perut hingga termuntah-muntah, kami hanya bisa diam, Felicia sepertinya agak geram melihat adegan ini. Polwan bernama Felicia kemudian kembali bangkit dan menantang mereka, "Kalau berani, ayo satu lawan satu!" ajak Felicia. "Hahaha, yang benar saja? Satu lawan satu?" para pria tersebut tertawa terbahak-bahak. "Apa kalian menangkap kami, para penjahat, juga ada pakai peraturan satu lawan satu? Kalian juga gerombolan, bahkan membawa senjata api..." kata pria bercadar yang tadi menendang Eka. Mereka juga sepertinya memiliki dendam yang besar terhadap polwan ini.

"Akh!...." teriakan Felicia yang ditendang dari belakang hingga terseret ke arah Eka. "Bagusnya dibunuh atau bagaimana?" tanya pria tadi pada kawan-kawannya. "Jangan dulu, sayang sekali kalau tidak dicicipi..." jawab temannya yang lain. "Hmm... Betul juga, kecantikan mereka seharusnya berguna..." Para pria yang menjaga kami mendekat ke arah kami dan menodongkan senjata mereka ke leher kami. Aku, Tono dan satu polwan lagi yang tidak tahu bakal diapakan oleh mereka. Kemudian pria yang menendang Eka mendekati Eka dan Felicia, "Turuti permintaan kami, atau mereka MATI!!!" ancam pria tersebut. Nampak Felicia hanya bisa melotot kesal ke arah pria tersebut. Pria tersebut kemudian membuka resleting celana jeans nya, dan penis besar yang sudah mengeras pun tersembul keluar. "Ayo, kulum!" perintah pria itu. Karena Felicia mengkhawatirkan keselamatan kami, ia pun terpaksa mengulum penis pria itu. Pria itu menjambak rambutnya agar Felicia lebih agresif, karena tadinya Felicia sedikit takut untuk menyentuhkan bibirnya ke penis pria tersebut. Sama halnya dengan Eka, dia juga dipaksa untuk mengulum penis pria bercadar lainnya. Felicia dan Eka tidak bisa melawan, karena nyawa kami kini tergantung dengan mereka.

Melihat dua polwan tersebut memberikan pelayanan begitu kepada dua pria bercadar itu, membuat penisku mengeras. Nafsu ku naik hingga tak tertahan, ingin sekali aku mengocok penisku sambil melihat adegan ini. Sungguh malang nasib mereka, rambut mereka yang hanya sebatas bahu dijambak untuk mengatur irama. Sedangkan polwan satunya yang berlutut di dekat kami terlihat menangis, dia tak sanggup melihat yang sedang terjadi. Hmm, cantik juga, yang satu ini nganggur, andai saja dia men-service ku, hahaha, harapku dalam hati. Ku pandangi seragamnya yang ketat, susunya terlihat agak besar, dan namanya Olivia tertera di seragam, terlihat jelas akibat lekukan dadanya yang membusung ke depan. Ku pandangi teman sebelahku ini, Tono, ia terlihat menikmati adegan tersebut, ia menonton tanpa mengedipkan mata, bahkan sesekali ia seperti menelan ludah.

Dua pria tersebut terus menggenjot mulut dua polwan itu, dua lainnya di dekat menunggu giliran, sedangkan tiga lainnya sedang mengawasi kami. Setengah jam ada penis mereka dikocok dengan mulut polwan itu dan akhirnya mereka menyemburkan sperma juga. "Ayo ditelan!" perintah salah satu pria yang dikulum penisnya itu. Awalnya Felicia mencobq memuntahkannya, namun pria yang dikulum penisnya itu menampar pipi Felicia dengan kuat 'Plak!' "Mau lihat temanmu mati?" ancam pria tersebut. Sehingg Eka dan Felicia sangat dengan terpaksa menelan semua sperma yang disemprotkan ke dalam mulut mereka. Setelah itu selesai, dua pria itu pun berpindah, mereka memberikan tempat untuk dua pria lain yang sudah dari tadi menunggu giliran. Dua pria itu berdiri di depan Eka dan Felicia. "Kami belum mau dikulum, tapi mau mengenyot..." kata salah satu pria tersebut. Felicia dan Eka sangat kaget mendengar permintaan pria tersebut.

Mendengar itu, Olivia yang berlutut dekat kami pun bersuara, "Jangan... Tolong lepaskan mereka..." Tapi bukan mendengar permohonan Olivia, salah satu pria yang mengawasi kami pun langsung menjambak rambut Olivia, "Lu mau ikutan mereka?!" kata pria tersebut. Olivia pun menangis dengan kencang. "Jangan... Biar saya saja..." kata Felicia yang dengan perlahan membuka kancing bajunya. "Loh, polwan yang satu ini mau lihat temannya mati?" tanya satu pria melihat ke arah Eka yang sedari tadi hanya terdiam saja. Takut dengan ancaman pria tersebut, Eka pun mengikuti apa yang dilakukan Felicia. Kedua polwan tersebut pun membuka seragam mereka, ku lihat bra warna putih mereka menutupi buah dada mereka yang bulat sempurna, tidak besar juga tidak kecil. "Ah, lama!" pria satu terlihat komplain, sehingga Felicia dan Eka pun terpaksa mempercepat membuka bra mereka. Penisku sedari tadi sudah ngaceng bukan main, apalagi melihat susu yang mengacung ke depan, bulat sempurna, baru kali ini aku melihat tubuh indah polwan. Dua pria yang tadi di depan Felicia dan Eka langsung dengan bringas melumat buah dada yang indah itu. Mereka seperti kesetanan, mengenyot buah dada itu, memeras, menampar, menggigit dan memainkannya. Puting yang kecil dan merah mudah dua polwan tersebut dipilin-pilin dengan jari, bahkan sesekali ditarik-tarik. Felicia dan Eka sepertinya menangis, mata mereka terlihat berbinar, mereka pasti malu diperlakukan seperti itu.

Olivia tak mampu melihatnya, dari tadi dia hanya memalingkan wajahnya, sedang Tono sedari tadi tidak mau melewatkan adegan ini. Aku sebenarnya iri sekali tidak bisa menikmati tubuh polwan tersebut. Setelah bosan menikmati payudara segar milik polwan, kedua pria itu meminta dua polwan itu mengulum penis mereka. Sedangkan dua pria yang tadi dikulum penisnya mendekati kami, "Tunggu di sana saja biar dapat giliran..." mereka meminta tiga pria yang mengawasi kami mendekat ke Felicia dan Eka untuk antri menunggu giliran. "Ga sabar ne bos, pengen disepong polwan juga ne..." kata salah satu pria yang menuju ke arah Felicia dan Eka, ia terlihat senyum kegirangan.

Felicia dan Eka kembali sibuk dengan mengulangi tugasnya tadi, mereka harus mengulum penis kedua pria bercadar itu. Tiga lainnya sudah tak sabar menunggu giliran, antrian belum sampai saja tiga-tiganya sudah membuka resleting celana jeans mereka dan mengeluarkan penis mereka yang sudah ngaceng.
Seperti halnya tadi, Felicia dan Eka kembali disuruh untuk menelan habis sperma yang telah mereka semprotkan ke dalam mulut Felicia dan Eka. Tiga pria yang tadi antri terlihat berebutan, karena cuma dua polwan saja yang sedang bertugas, terpaksa satu pria harus mengalah. Dua pria kembali meminta Felicia dan Eka mengulum penis mereka. Satu pria yang tadi mengalah hanya bisa memainkan penisnya sendiri, "Ga apa-apa, nanti saya minta diservice dua polwan sekaligus deh..." katanya yang terlihat malu karena kalah dari perebutan. Kembali lagi Felicia dan Eka harus menelan habis sperma dua pria selanjutnya tadi. Mereka terlihat mau muntah, masing-masing telah menelan sperma dari tiga orang pria. Akhirnya pria yang tadi kalah dari perebutan pun maju, ia nampak sangat senang, walaupun giliran terakhir, namun ia lebih spesial karena bisa dilayani dua polwan sekaligus.

"Kalian pasti sudah eneg ya minum sperma?" ejek pria tersebut. "Kalau kalian tidak mau minum sperma lagi... Menarilah untukku..." minta pria tersebut. Dua polwan itu tidak mungkin menolak, apapun yang diperintahkan para pria tak dikenal ini haruslah dituruti. Dua polwan tersebutpun terpaksa menari, tanpa pakaian penutup atas, sehingga buah dada mereka yang bulat terlihat jelas. "Celana nya di lepas dong, gue mau lihat memek kalian..." kata pria tersebut. Kedua polwan itu belum menurutinya, mereka masih menari dengan mengenakan celana abu-abu gelap mereka yang sedikit ketat. Merasa tak didengar, pria tersebut melepas ikat pinggangnya, 'Plak' 'Plak' dibesutnya ikat pinggang terssebut ke arah mereka. Dengan mata berlinang air mata, mereka pelan-pelan menurunkan celana mereka. Waw, tak sabar aku pun ingin sekali melihat kemaluan milik polwan. Tono pun masih tidak berkedip dengan apa yang ia tonton, sifat hypersexnya memang sudah lama di-idapnya.

Setelah melorotkan celana mereka, celana dalam berwarna pink mereka pun pelan-pelan ditarik turun. "Sungguh indah..." kata pria tersebut melihat kemaluan dua polwan yang segar itu. Vagina mereka tanpa bulu, mungkin selalu dicukur mereka agar terlihat lebih bersih. "Sini, hisap kontolku!" perintah pria itu. Dua polwan yang sudah telanjang bulat itu pun maju dan berlutut di depan pria itu. "Ga usah rebutan, sini gue mau netek juga..." kata pria tersebut. Felicia kemudian bangkit dan menyodorkan buah dadanya kepada pria itu, sedangkan Eka bertugas mengulum penis pria tersebut. Payudara Felicia terus dikenyot dengan kasar, hampir setengah jam pria itu dilayani dua gadis, ia pun merasa bosan, "aku mau ngentot..." katanya. Mendengar kata itu, dua polwan tersebut kaget. Mereka sepertinya tidak terima dan mengambil sebuah tindakan. Pria tadi ditangkap Felicia dan Eka, "Lepaskan kami, atau pria ini mati!" ancam Felicia yang tadi dengan cekatan menangkap pria di depannya. Suasana menjadi hening seketika. Namun suara tertawa pun memecahkan keheningan, "Hahaha, kalian pegang satu nyawa, sedangkan kami pegang tiga nyawa..." kata salah satu pria yang mengawasi kami. "Mau mereka mati?" tanya pria tersebut.

Aku sedikit iba melihat semua ini, aku pun coba untuk menengahi, "Biar saya jadi sandera saja, tapi lepaskan mereka..." pintaku. "Wah, mau jadi pahlawan di malam buta begini?" kata pria tadi yang kemudian mendekatiku. Ia terlihat marah sekali, dan langsung mendekatkan belatinya di leherku. "Buka celanamu!" teriak pria itu. Spontan saja aku kaget dan ingin melawan, tapi tubuhku didorong hingga tersungkur. "Biar saja semuanya mati..." kata pria itu. Terpaksa aku pun membuka celanaku hingga celana dalamku. "Dengar, kalau kalian tidak mau mendengar perintah kami, maka peler orang ini akan saya potong!" ancamnya sambil mengarahkan belatinya ke penisku yang sudah mengeras sedari tadi. Jantungku berdetak dengan kencang, hampir pingsan aku dibuatnya ketika mendengar penisku akan dipotong. Dua polwan yang melawan tadi pun terdiam, pria-pria lain mendekati mereka dan memukuli mereka. Dua polwan tersebut ditampar dan ditendang oleh beberapa pria. Sedangkan pria tadi yang sempat ditangkap oleh dua polwan itu terlihat sangat marah. "Aku tak akan mengasihani kalian lagi!" katanya. Kemudian ia bangkit dan menuju ke arah kami, ia mendekati polwan yang berlutut bersama kami. Polwan yang bernama Olivia tersebut kemudian dijambak rambutnya dan ditarik kemudian dilemparkan ke arahku, hingga wajah sang polwan tersebut tepat mengenai penisku. "Hisap!" perintah pria tersebut. Waw, kejutan yang indah kataku dalam hati.

Aku diposisikan keadaan yang sangat sulit, satu sisi aku sudah sangat nafsu, di sisi lain aku kasihan melihat kemalangan yang menimpa para polwan tersebut. Aku coba menghalangi, "Jangan..." kataku. Lalu pria tadi yang mengancam akan memotong penisku kembali mengancam lagi, "Peler lu mau gue potong ya?!" Aku pun hanya yerdiam ketakutan. Olivia kemudian dengan berderai air mata mencoba mengulum penisku. Tono terlihat tak terima, ia berteriak "Hentikan semua ini!" Aku yakin Tono berpura-pura melawan karena ia iri dengan apa yang ku alami. Besar dugaanku adalah bahwa Toni juga ingin diperlakukan seperti ini. "Dasar kerempeng!" pria lain mendorong Tono hingga jatuh. Pria itu mendekatkan belati ke arah Tono, "Lu mau coba jadi pahlawan juga??" tanya pria itu. Tono pun kemudian terdiam. Di arah lain, ku lihat Eka dan Felicia sudah dikerumuni lima pria bercadar, mereka bergantian menggauli dua polwan itu.

Dua pria lain masih mengawasi aku, Tono dan Olivia. Dari tadi penisku dikulum oleh Olivia, badannya terlihat gemetar sekali, kulumannya pun tidak begitu erat, ia mungkin belum pernah melakukan ini. "Hey lu! Bantu polwan itu buka seragam!" perintah pria yang mengawasi kami kepada Tono agar Tono membuka seragam Olivia. Tono tetap terdiam tak mau bergerak, ja'im banget, padahal dia sangat terobsesi dengan adegan seperti ini. "Oi, mau mati lu?!" ancam pria itu menunjukkan belatinya. Tono pun kemudian menuju arah kami. Olivia menghentikan kulumannya karena sudah ketakutan akan dibugili. Melihat begitu, dua pria yang mengawasi kami terlihat marah, "Dasar tak berguna!" Mereka berdua kemudian menangkap Olivia, tangan dan kaminya ditangkap mereka, "Hei kalian, cepat buka dan kenyot susunya!" perintah dua pria itu kepada aku dan Tono. Dengan perasaan serba tidak enak, aku dan Tono pun membuka seragamnya Olivia, kancing bajunya satu persatu kulepas, sedangkan Tono melepas celana panjang berwarna abu-abu gelap polwan itu. Bra putih sudah terlihat, aku sudah tak sabar ingin melihat payudara polwan ini, bagian bawah kulihat Tono juga sudah berhasil melepas celana Olivia hingga terlihat celana dalam berwarna merah muda yang penuh dengan gambar bunga. "Cepat! Atau polwan ini kami bunuh!" ancam dua pria itu. Aku langsung gelagapan karena kaget mendengar suara dengan nada keras pria tersebut. Bra Olivia ku angkat ke atas hingga terlihat bukit kembarnya yang semakin merangsang saya.

Kini tubuh Olivia sudah bugil tanpa balutan sehelai benang pun. Dia berusaha berontak untuk melawan. Aku tersejenak karena sedikit tidak tega melihat Olivia yang tak berkutik dipegangi dua pria bercadar. Berbeda dengan Tono, kulihat dia sudah menciumi selangkangan Olivia, sekitar vaginanya sangat bersih tanpa bulu. Tapi bagaimana aku bisa mengenyot susunya, toh dua pria bercadar yang memegangi Olivia berebutan menjamah dan memeras susu Olivia yang bulat indah itu. Satu pria bercadar itu menjambak rambut Olivia dan menyuruh aku mendekatkan penisku ke arah Olivia. "Kalau lu uda nyaman, lu ga bakal belain mereka, liat kawan lu tuh!..." kata pria itu. Olivia pun kemudian mengulum penisku, sungguh sedap sekali. Olivia sudah tak berkutik, susunya kemudian dikenyot dua pria bercadar, sedangkan vaginanya terus dijilati oleh Tono.

Penisku terus dikulum Olivia yang memerah mukanya, ia hanya menutup matanya walaupun terus menangis. Sedangkan dua temannya, Felicia dan Eka, sibuk melayani lima pria bercadar lainnya yang memperkosa mereka secara bergiliran. Dari arah sana kudengar suara memohon ampun, Eka dan Felicia mungkin tak sanggup melayani lima orang pria yang kesetanan itu.

Setelah selesai menyetubuhi Eka dan Felicia, lima pria itu tidak terlihat lelah sama sekali, malah mendekat ke arah kami dan minta jatah Olivia. Aku dan Tono pun disuruh minggir, karena takut disakiti, aku dan Tono pun menyingkir. "Tuh, dua mainan sono, nikmati saja sebelum kalian kami bunuh!" kata salah seorang pria yang mendekati kami, dia memerintahkan kami menyetubuhi Felicia dan Eka. Kupandangi ke arah sana, Eka dan Felicia sudah tidak bergerak, mereka sudah pingsan, dengan kaki yang masih mengangkang terlihat jelas vagina mereka yang belepotan cairan sperma. Aku tidak tega melihat begitu, namun Tono menarik tanganku untuk mendekati dua polwan itu.

Tono terlihat sangat nafsu sekali, ia langsung membuka semua pakaiannya dan langsung memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Eka. "Tuh si Felicia nganggur", katanya. Bodoh amat pikirku, toh polwan ini sudah tidak sadarkan diri, aku pun kemudian meremas-remas susu Felicia yang menggemaskan. Wajahnya yang cantik sangat menarik perhatianku, ingin sekali kuciumi wajahnya, tapi aku sedikit geli dengan sperma yang menempel di sekitar bibirnya, jadi ku urungkan niatku itu. Akhirnya setelah puas meremas susu Felicia, aku pun mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Penisku yang dari tadi mengeras dengan kondisi resleting yang terbuka, sudah tak sabar mencari labuhannya. Aku dan Tono pun menggenjot dua polwan yang sudah pingsan tersebut.

Sambil menggenjot Felicia yang tidak sadarkan diri, aku mendengar rintihan minta ampun di kumpulan sana, kumpulan tujuh pria melawan satu gadis perempuan. Olivia kelihatan terus disiksa, tujuh pria tersebut bergiliran menikmati setiap lubangnya, dari mulut, vagina, hingga lubang anusnya dimanfaatkan. "Saakkiiiii...ttt...tt....." rintihan terus terdengar, rambutnya dijambak, pipinya ditampar, puting susu nya digigit, sungguh malang sekali nasibnya, malah lebih malang dari nasib kedua temannya ini. Hampir satu jam aku menyetubuhi tubuh Felicia yang pingsan, dan aku pun menyemprotkan sperma hangatku di dalam vagina Felicia, sungguh nikmat sekali, sampai aku tak mau mencabut penisku, dan aku hanya beristirahat memeluk Felicia. Aku lihat Tono pun sudah mencapai titik klimaknya, setelah menyembutkan spermanya, Tono pun mencabut penisnya, tapi ia tidak terlihat lelah. "Man, minggir dong..." pinta Tono, sepertinya dia ingin menikmati Felicia juga. Gila, pikirku, Tono memang memiliki nafsu yang melebihi manusia normal, walau sudah ber-ejakulasi berkali-kali, ia masih tak mau melepaskan kesempatan seperti ini. Demi kepuasan teman, aku pun mengalah, aku menepi untuk beristirahat sejenak. Ku lihat tujuh pria bercadar juga masih bersemangat mengerjai Olivia, bahkan pria-pria itu berkata akan berpesta dengan tiga polwan ini hingga pagi hari.

"Man... Bangun man..." aku terlelap dan Tono membangunkanku, kulihat ke langit sudah terang. Aku tidak tahu semalam para penjahat bercadar memperkosa Felicia, Eka dan Olivia hingga berapa ronde, yang jelas aku melihat arloji ku sudah menunjukkan pukul 06:12. Muka Tono sedikit memar, sepertinya ia dipukuli para penjahat itu. Aku lihat Eka sibuk memakaikan pakaian pada Olivia yang pingsan. "Polwan yang satu lagi mana?" tanyaku pada Tono. "Dia ke mobil cari bantuan..." kata Tono yang megangi pipinya yang lebam. "Woi! Bantu kita!" teriak Eka. Aku dan Tono pun kemudian membantu Eka memapah Olivia agar keluar dari hutan ini. Sampai di depan, aku lihat sudah ada mobil patroli yang lain di tepi jalan. Beberapa polisi pria langsung mendekati kami dan mengendong Olivia.

Kami pun masuk ke dalam mobil patroli dan segera dibawa ke kantor polisi. Namun sebelum ke kantor polisi, kami dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Aku dan Tono tidak mengalami luka yang serius, cuma luka memar di pipi Tono yang diberi sedikit obat semacam salep. Sedangkan para polwan mengalami luka serius, vagina mereka sobek karena diobok-obok paksa oleh para penjahat itu. Olivia pun terpaksa harus rawat inap karena dia masih pingsan. Aku dan Tono beserta polwan lain pun dibawa ke kantor polisi setelah dirawat beberapa jam. Kami disuruh membuat laporan dan menjadi saksi atas kejadian tersebut. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku tertidur, namun Tono menjelaskan bahwa dia dipukuli para penjahat itu saat ia memohon agar tidak membunuh kami semua.

Namun hingga sekarang ke tujuh pria bercadar tersebut belum diketahui identitasnya. Polisi yakin bahwa mereka adalah residivis yang memiliki dendam dengan para polwan itu. Karena tidak ada bukti yang lebih akurat, polisi tidak meneruskan penyelidikan. Selain penjahat itu bercadar, mereka pun menggunakan sarung tangan, tidak ada sisa jejak mereka kecuali sperma-sperma kering yang melekat di tubuh para polwan.